Keep fighting my fate
RSS icon Email icon Home icon

  • Pergolakan Eksistensi Sastra Modern Indonesia dalam Deras Arus Westernisasi (makalah)

    Print E-mail

    Posted on May 23rd, 2009 by Dimas Prasetyo, and has been read for 3,693 times No comments

    Novel populer adalah sebuah fenomena yang umum kita temui di tahun-tahun belakangan. Apalagi di masa reformasi ketika kebebasan untuk berpendapat dan berekspresi dijamin seluas-luasnya. Penulis-penulis muda bermunculan turut mewarnai dunia sastra Indonesia. Tema-tema yang ringan seperti cinta dan keluarga, menjadi pembahasan utama di karya novel populer. Penggunaan bahasa yang santai dan gaul adalah salah satu ciri mencolok dari aliran sastra ini. Namun itu baru dari luarnya saja, jika diamati lebih jauh, akan terkuak unsur-unsur barat dalam tiap karya novel populer. Orientasi cerita yang mengedepankan kehidupan barat telah menjadi suatu trend bagi para penulisnya. Remaja yang banyak menulis novel populer, seolah-olah menyalurkan hasrat terpendam mereka atas kebebasan dan kehidupan gemerlap metropolitan. Hal tersebut kemudian membawa presepsi akan keberadaan nilai asli yang dimiliki oleh novel populer Indonesia. Pengambilan tema yang populer ini pula dianggap sebagian orang merupakan penurunan pada kualitas sastra Indonesia. Apakah hal ini benar? Jawabannya terdapat pada perihal tarik-menarik budaya dan relativitas parameter yang digunakan.

    BAB I
    Pendahuluan

    1.1 Latar Belakang
    Sejarah peradaban manusia tidak lepas dari budaya yang mampu dihasilkan. Salah satu bukti konkrit dari hal tersebut adalah peninggalan catatan manusia dalam bentuk tulisan. Pada awalnya, tulisan ini hanya dipergunakan dalam ritual keagamaan dan dokumentasi hal-hal penting. Namun dalam perkembangan lebih lanjut, tulisan juga dijadikan sebuah seni yang memiliki teknik serta gayanya sendiri. Seperti contoh pada kitab-kitab kesusastraan dan seni menulis indah yang disebut kaligrafi.
    Di Indonesia sendiri, budaya tulis-menulis belum berjalan terlalu lama. Baru sejak abad Ke IV masehi, ditemukan bukti pertama catatan yang dituliskan pada prasasti Yupa. Kemampuan manusia membuat catatan tertulis terus berkembang hingga masuknya agama Islam dengan aksara arab, serta aksara latin yang dibawa bangsa Eropa di nusantara. Perkembangan sastra Indonesia sendiri, baru dimulai sejak periode angkatan Balai Pustaka di tahun 1920. Momen ini dijadikan pula sebagai tonggak awal penulisan sastra modern Indonesia.
    Di awal abad XXI, penulisan sastra prosa dalam bentuk novel semakin variatif dan menarik. Para penulis muda bersaing dengan talenta-talenta lain untuk memberikan warna baru dalam karya novel Indonesia. Penulis-penulis senior dengan karya mereka yang penuh nilai sastra, mulai tergeser dengan novel-novel chicklit, teenlit, atau ladlit yang lebih digemari konsumen Indonesia. Novel-novel tersebut dianggap lebih mudah dipahami karena penggunaan ragam bahasa yang casual dan berdasarkan kehidupan sehari-hari. Bahkan ada konotasi negatif dari sastra populer ini dengan menyebutnya roman picisan. Sehingga demikian menimbulkan perbedaan persepsi antara sastra berat dengan sastra ringan yang dianggap kurang berkualitas dalam nilai kesusastraan.
    Jenis karya seperti di atas, oleh Esther Lombardi, disebut sebagai Escape Literature. “Escape literature is written for entertainment. This type of work may still have some literary value, but its primary purpose is to help us pass the time or to escape into an alternate reality ” Sehingga bisa dikatakan novel-novel teenlit, chicklit, dan ladlit tersebut adalah escape literature (Sastra Pelarian) yang tujuan utamanya adalah untuk memberikan hiburan kepada pembaca walau masih memiliki sedikit nilai sastra. Karya ini juga ditujukan untuk melarikan diri dari realita hidup yang dianggap menjemukan oleh penulis. Mereka membuat sesuatu yang ada dalam imaginasi mereka menjadi nyata, meski hal tersebut belum tentu atau bahkan mustahil ada dalam dunia real.
    Ketika pergi ke toko buku dan menengok ke rak-rak dimana buku-buku populer berada, maka akan kita temui berpuluh judul novel dengan segala keunikannya. Novel-novel yang biasanya ditulis oleh novelis muda Indonesia ini,memiliki tema seragam, yaitu cinta remaja dan kehidupan masyarakat urban. Dari judul-judulnya jelas terlihat khas dari seorang remaja dengan penggunaan bahasa yang gaul. Seperti Kok Putusin Gue karya Ninit Yunita, Cintapuccino karya Icha Rahmanti, Miss Jutek karya Yennie Hardiwidjaya, dan masih banyak sederet judul serupa lainnya. Hal tersebut merupakan fenomena yang wajar terjadi di era globalisasi, dimana segala sesuatunya serba mendunia. Trend ini terkadang membuat kita terbawa dalam arus dan mengalir begitu saja. Informasi yang kita dapatkan hampir sama, sehingga menghasilkan efek yang sama pula. Selain itu, mental bangsa negara berkembang yang suka mengimitasi dan meniru gemerlap budaya barat, turut andil dalam penentuan corak sastra Indonesia.
    Jika kita telusuri lebih jauh, semua hal ini tidak lepas dari pengaruh unsur budaya barat. Pengalaman pernah dijajah oleh salah satu bangsa eropa dan ditambah lagi dengan era globalisasi yang terjadi belakangan, menyebabkan pengaruh tersebut semakin nyata ke dunia sastra Indonesia. Kita dapat melihatnya dengan jelas pada isi dan gaya penceritaan yang digunakan. Jika kita membaca karya novel gubahan pengarang Amerika Serikat, Sidney Sheldon(1917-2007), terlihat jelas ciri khas gaya penulisan novel-novelnya yang terbit sejak tahun 80-an. Penekanan pada unsur alur dalam sebuah cerita, menyajikan jalan cerita yang seru bagi para pembaca. Kembali kita dapati faktor ekonomis dalam penulisan novel. Penulis cenderung menyuguhkan cerita dengan bahasa yang lugas, mudah dimengerti, dan ringan.
    Efek dari budaya barat ini terus mengakar dalam sendi-sendi kesusastraan modern Indonesia. Seperti dalam makna luasnya, sastra adalah cerminan gagasan/ide kebahasaan seseorang yang memperhatikan aspek keindahan dan kesusastraan tulisan, serta dituangkan tidak hanya dalam media tulis, namun dapat pula berupa audio atau visual . Oleh sebab itu, jika dilihat belakangan ini nilai kebaratan sangat jelas merambah dunia film dan sinetron Indonesia terutama yang bertemakan remaja. Pola pikir tokoh remaja dalam layar kaca yang berorientasikan barat telah membentuk trend pop culture dalam masyarakat. Tarik-menarik budaya ini, menimbulkan ambiguitas apakah sastra modern Indonesia dibentuk oleh nilai-nilai yang memang sedang terjadi di dalam masyarakat, atau budaya itu sendiri yang dibentuk oleh sastra modern yang telah mengadopsi unsur budaya barat.

    1.2 Rumusan Masalah
    Dalam makalah ini, akan kita temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana pengaruh budaya barat dalam penulisan sastra era modern di Indonesia? Lalu berupa apa dampak konkrit dari pengaruh barat tersebut? Bagaimana pengaruh itu dapat masuk, dan apa saja faktor yang mendukungnya? Dari dampak tersebut, bagaimana wajah sastra Indonesia modern di mata pembaca, apakah dianggap berkualitas, cukup, atau malah tidak berkualitas sama sekali? Lebih jauh lagi, setelah mendapatkan pengaruh, apakah masih tetap ada perbedaan antara sastra modern di barat, khususnya Amerika dan Inggris, dengan apa yang ada di Indonesia?

    Pages:Next page


    Related Links:


    Leave a reply

    CommentLuv Enabled

Canonical URL by SEO No Duplicate WordPress Plugin