<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dimaster</title>
	<atom:link href="http://dpm.web.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dpm.web.id</link>
	<description>Inspiring Your Life</description>
	<lastBuildDate>Mon, 22 Feb 2010 02:40:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Potensi Industri  Kreatif Berlandaskan Budaya Indonesia dalam Menghadapi Badai AC-FTA</title>
		<link>http://dpm.web.id/karya/esei-karya/potensi-industri-kreatif-berlandaskan-budaya-indonesia-dalam-menghadapi-badai-ac-fta-932</link>
		<comments>http://dpm.web.id/karya/esei-karya/potensi-industri-kreatif-berlandaskan-budaya-indonesia-dalam-menghadapi-badai-ac-fta-932#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 08:56:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[ac-fta]]></category>
		<category><![CDATA[industri kreatif]]></category>
		<category><![CDATA[pasar bebas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=932</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Menjelang didentangkannya lonceng tahun 2010, sebagian media dan pengamat ekonomi kita sibuk memperbincangkan kontroversi perjanjian perdagangan bebas antara perhimpunan negara-negara asia tenggara (ASEAN) dengan Republik Rakyat Tiongkok yang biasa disebut Asean China Free Trade Agreement (AC-FTA). Banyak pendapat yang mengemuka dalam isu ini. Sebagian besar dari para pengamat memprediksi dampak buruk dari perjanjian dagang bebas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/karya/esei-karya/potensi-industri-kreatif-berlandaskan-budaya-indonesia-dalam-menghadapi-badai-ac-fta-932"></a></div><p><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p>Menjelang didentangkannya lonceng tahun 2010, sebagian media dan pengamat ekonomi kita sibuk memperbincangkan kontroversi perjanjian perdagangan bebas antara perhimpunan negara-negara asia tenggara (ASEAN) dengan Republik Rakyat Tiongkok yang biasa disebut Asean China Free Trade Agreement (AC-FTA). Banyak pendapat yang mengemuka dalam isu ini. Sebagian besar dari para pengamat memprediksi dampak buruk dari perjanjian dagang bebas ini. Mereka berpendapat bahwa penurunan tarif/bea masuk barang-barang impor dari Tiongkok hingga 0% hanya akan merugikan ekonomi nasional. Pendapat ini didasari pada fakta sebelum AC-FTA ini resmi berlaku, barang-barang import dari Tiongkok yang termasyur dengan harganya yang murah, telah mendominasi pasar nasional. Meski dari segi kualitas barang impor dari Tiongkok ini tidak lebih baik dari produk lokal, para konsumen cenderung memilih barang impor karena selain harga yang lebih murah, dari segi design kemasan pun lebih menarik. Namun sebaliknya, pihak pendukung terlaksananya AC-FTA yang umumnya dari kubu pemerintah, menerangkan bahwa perjanjian ini akan berdampak positif bagi ekspor produk Indonesia ke Republik Rakyat Tiongkok. Tiongkok dengan penduduk terbanyak di dunia dan pertumbuhan ekonomi terpesat menjadikannya sebuah pangsa pasar yang potensial bagi eksportir Indonesia.<br />
<span id="more-932"></span></p>
<p>Namun arah angin di publik Indonesia saat ini tetap mengarah ke upaya untuk melakukan renegosiasi pelaksanaan AC-FTA. Indonesia dinilai belum siap dan oleh karenanya, hanya akan membawa lebih banyak kerugian, daripada keuntungan yang mampu diperoleh. Hakikatnya, ada beberapa alasan mengapa isu AC-FTA ini hangat diperdebatkan di publik. Pertama, adalah ketidaksiapan industri manufaktur Indonesia terhadap serbuan barang-barang murah dari Tiongkok. Masih tingginya biaya produksi di Indonesia yang diakibatkan dari rendahnya efisiensi produksi menyebabkan produk hasil industri lokal tidak dapat bersaing dari segi harga. Selain itu, kekhawatiran para ekonom adalah dampak negatif terhadap meningkatnya jumlah pengangguran. Diprediksi bahwa industri manufaktur dan unit usaha kecil menengah yang tidak mampu bersaing dengan harga barang-barang dari Tiongkok, akan gulung tikar atau melakukan pengurangan tenaga kerja.</p>
<p>Sistem pasar bebas antar negara ini tak ayal menjadi suatu pemakluman di era globalisasi. Bahkan dari beberapa abad lalu pun dua pemikir Inggris Adam Smith dan David Ricardo telah mengemukakan pendapatnya tentang hal ini. Dalam bukunya yang lazim dikenal The Wealth of Nations, Adam Smith menyarankan kebebasan tiap individu untuk melakukan perdagangan tanpa ada batasan atau halangan apapun. Teori yang ia kemukakan ini hakikatnya merupakan antitesis dari paham merkantilisme yang saat itu dianut oleh negara-negara Eropa. Paham Merkantilisme menghendaki kwantitas ekspor suatu negara yang selalu lebih tinggi daripada kwantitas impornya, sehingga selalu tercipta neraca perdagangan surflus. Jika ditilik lebih dalam, sistem ekonomi ini hanyalah akan menguntungkan negara yang memiliki sumberdaya baik alam atau manusia yang kuat. Ia mengekspor banyak komoditi ke negara lain, namun menerapkan proteksi terhadap barang impor yang ingin masuk ke pasar domestiknya. Sehingga demikian, akan selalu terdapat negara industri/kaya, dengan negara konsumen/miskin. Oleh Adam Smith, sistem ini dikirtik, dan ia menawarkan suatu sistem pasar bebas yang dapat memicu semua potensi individu untuk bersaing secara sehat. David Ricardo pun mendukung teori ini dengan mengatakan bahwa untuk dapat bersaing, tiap produk harus memiliki keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif ini diperoleh dari efisiensi proses produksi yang akan berdampak pada optimalisasi harga jual. Dua bangsa yang memproduksi produk yang sama akan saling bersaing dalam masalah efisiensi proses produksi dan harga jual.</p>
<p>Dari sisi historis, hakikatnya sistem pasar bebas bukanlah sebuah hal yang baru bagi Indonesia yang dahulu bernama Nusantara. Dalam nyanyian tradisional kita mengenal ungkapan bahwa nenek moyang kita adalah seorang pelaut. Nusantara sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, telah menciptakan pelaut-pelaut tangguh tidak hanya antar pulau, namun pula sampai ke daratan Tiongkok dan pesisir Afrika. Kota-kota pesisir seperti Makasar, Banten, Demak, Malaka, dan Tuban adalah beberapa bandar pelabuhan internasional yang kerap disinggahi pedagang mancanegara. Saat sebelum kedatangan bangsa Eropa yang memonopoli perdagangan di Nusantara, telah terjadi perdagangan bebas antar bangsa. Tak ada tarif bea masuk atau penetapan kuota apapun. Semua bebas untuk berdagang di bandar-bandar dan tawar-menawar tanpa ada tekanan. Baru setelah bangsa Eropa terutama Portugis dan Belanda menguasai perdagangan Nusantara, mereka menerapkan sistem monopoli yang mengharuskan produsen domestik hanya menjual barang dagangannya ke pihak Portugis/Belanda. Pelayaran Hongi adalah salah satu bentuk nyata dari patroli antisipasi penyelendupan yang dilakukan oleh orang Maluku yang ingin menjual rempah-rempah ke pedagang lain. Sistem pembatasan dalam perdagangan ini masih berlaku hingga saat ini dengan dalih untuk melindungi ekonomi domestik dan surflus ekspor.</p>
<p>Pada kenyataannya, sistem ekonomi pasar bebas sempurna memang tidak dapat dilakukan sepenuhnya di Indonesia. Ada 8 sektor kurang lebih menurut mentri perindustrian Kabinet Indonesia Bersatu II MS Hidayat yang membutuhkan renegosiasi<a href="#_edn1">[1]</a>. Perlu diakui pula, proteksi dan subsidi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah tidak kunjung membuat industri lokal siap untuk menghadapi era pasar bebas. Para pengusaha lokal cenderung terlanjur “nyaman” dalam iklim ekonomi domestik dan hanya bisa protes ketika ada barang impor yang menyaingi produk lokal.</p>
<p>Ketika AC-FTA berlaku penuh pada tanggal 1 Januari 2010, serentak gelombang protes dari berbagai elemen pengusaha dan buruh menentang atau paling tidak menuntut penundaan perjanjian area pasar bebas ini. Jika kita kaji lagi, AC-FTA ini bukanlah sesuatu yang baru dibicarakan selama beberapa bulan lantas disetujui oleh pemerintah. Proses terwujudnya area pasar bebas China ASEAN ini sudah dirintis sejak 10 tahun yang lalu. Diawali dari KTT ASEAN + China pada November 2000 yang diprakarsai oleh perdana mentri Tiongkok saat itu, Zhu Rong Ji, bahwa diperlukan suatu area perdagangan bebas yang meliputi negara ASEAN dan China. Selanjutnya, di bulan Maret 2001 dibentuklah sebuah tim gabungan yang akan mengkaji kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan kerjasama ini. Hingga demikian, pada November 2001 di KTT ASEAN di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, ditandatanganilah kerangka kerja perjanjian ASEAN China Free Trade Agreement<a href="#_edn2">[2]</a>. Pelaksanaan kerangka kerja ini pula telah memperhatikan kesiapan industri-industri negara berkembang ASEAN untuk mengantisipasi sistem pasar bebas.</p>
<p>Dilansir dari situs vibizdaily.com, ada tiga tahapan besar yang pada akhirnya akan bermuara pada pemberlakuan tarif 0% bea masuk barang impor di kawasan ASEAN dan China. Pertama, adalah Early Harvest Programme (EHP) yaitu penurunan atau penghapusan bea masuk seperti produk pertanian, keautan perikanan, makanan, minuman dan lain-lain, yang dilakukan secara bertahap sejak 1 Januari 2004 hingga 0% pada Januari 2006. Kedua, adalah Normal Track 1 (NT1) dan Normal Track 2 (NT2). Untuk NT1, penurunan bea masuk dimulai sejak tanggal 20 Juli 2005 dan menjadi 0%pada 2010. Sedangkan NT2 diterapkan menjadi 0% pada tahun 2012. Ketiga, adalah Sensitive Track (ST) yaitu Sensitive list (SL) dimana tarif bea masuk akan diturunkan/ dihapusmenjadi 0-20% pada tahun 2012 sampai 2017 dan menjadi 0-5% mulai tahun 2018; Highly Sensitive List (HSL) dimana tarif bea masuk akan diturunkan/ dihapus menjadi 0-5% mulai tahun 2015; dan General Exclusion List (GEL) dimana tarif yang berlaku adalah MFN<a href="#_edn3">[3]</a>.</p>
<p>Jika ingin dicermati dari fakta di atas, sudah ada langkah-langkah bertahap yang memungkinkan tiapnegara penandatangan perjanjian mencapai kesiapan pada saat AC-FTA diberlakukan resmi 1 Januari 2010. Namun pada kenyataannya, para pengusaha dan industri Indonesia masih merasa belum siap dan merasa terancam dengan semakin membanjirnya barang impor dari China. Dalam keadaan seperti ini, masyarakat ekonomi domestik kita harus bergerak cepat untuk mendayagunakan potensi-potensi lokal demi bertahan dan tetap melaju ke depan di tengah badai AC-FTA. Salah satu cara yang paling memungkinkan adalah melalui industri kreatif berlandaskan kebudayaan lokal Indonesia.</p>
<p>Keunggulan komparatif yang dikemukakan oleh David Ricardo untuk memenangkan persaingan di pasar bebas sejatinya hampir mustahil dilakukan oleh Indonesia. Tiongkok akan amat sulit untuk dikejar dalam hal efisiensi dan minimalisasi ongkos produksi. Mereka mampu memproduksi suatu barang secara masal di pabrik-pabrik raksasa. Sedangkan di Indonesia, jenis barang sejenis masih diproduksi di unit usaha kecil menengah yang sudah pasti memerlukan ongkos produksi yang lebih besar. Oleh karena itu, perlu ada keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh produk Indonesia untuk dapat memasuki pasar negara lain. Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Himawan Wijanarko, General Manager Strategic Services The Jakarta Consulting Group, bahwa tak dapat lagi hanya berpegangan pada komparasi harga produksi, namun diperlukan pula strategi pemasaran dan fokus pada optimalisasi suatu jenis produksi<a href="#_edn4">[4]</a>. Dalam hal ini, pemanfaatan potensi kebudayaan lokal melalui industri kreatif dapat berperan besar. Kita sudah melihat contoh industri kreatif yang sayangnya dilakukan bukan oleh pihak Indonesia. Batik Adidas, adalah salah satu bukti nyata bagaimana potensi kebudayaan lokal Indonesia dapat dimanfaatkan untuk mendukung keunggulan kompetitif<a href="#_edn5">[5]</a>. Dalam kasus ini, Adidas menggunakan motif batik Indonesia untuk beberapa produknya seperti sepatu, jaket, dan lain-lain. Di sini Adidas telah mampu memproduksi sesuatu yang unik atau tak sama dengan produk lain. Ada sebuah keunggulan kompetitif yang tidak mampu dilihat dari hanya sebatas perbedaan harga. Hal inilah yang seyogyanya dilakukan oleh para pengusaha Indonesia saat ini. Banyak hasil kekayaan lokal Nusantara yang mampu dimanfaatkan untuk membangun industri kreatif yang kuat. Bukan hanya batik, masih banyak motif dan jenis kain lain seperti ulos, songket, dan masih banyak lagi yang dapat diberdayakan sebagai komoditi ekspor Indonesia.</p>
<p>Modifikasi dan inovasi merupakan dua hal pokok yang dibutuhkan dalam industri kreatif. Kebudayaan lokal yang dimiliki Indonesia jangan hanya dilihat sebagai apa adanya. Perlu ada kajian dan improvisasi untuk memghasilkan sebuah produk yang diminati oleh pasar. Kebudayaan Indonesia amat kaya, tak perlu takut akan kehabisan ide dan potensi yang belum tergali.</p>
<p>Namun di luar semua itu, sikap cinta produk dalam negeri juga perlu digalakan demi mendukung daya saing produk Indonesia<a href="#_edn6">[6]</a>. Suatu produk yang tidak dicintai oleh masyarakat pembuatnya sendiri, tak akan mampu bersaing ke luar negeri. Kita bisa melihat Toyota dan Honda di Jepang. Produk tersebut mampu untuk bersaing ke pasar luar negeri karena masyarakatnya cinta dan bangga akan hasil produksinya sendiri. Selain itu, pemerintah Jepang juga menanamkan rasa malu pada bangsanya jika menggunakan produksi sejenis yang berasal dari luar negeri<a href="#_edn7">[7]</a>. Hal sepertinyalah yang harus dipupuk dalam hati setiap orang Indonesia. Bangga akan produk kekayaan budaya sendiri. Salah satu bukti kecilnya adalah budaya memakai batik. Ketika kita sudah mencintai budaya memakai batik, secara tidak langsung kita telah mempromosikan kepada dunia bahwa batik yang dipakai dalam kesempatan-kesempatan informal adalah salah satu hasil dari industri keatif kita. Namun sebaliknya, jika kita sebagai bangsa penghasil kebudayaan terkait tidak bangsa akannya, maka mutlak industri kreatif berlandaskan potensi budaya lokal tak mampu menembus pasar luar negeri.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Bangsa Indonesia dikenal karena keanekaragaman budaya dan keindahan alamnya. Sebuah kesalahan besar jika budaya yang memiliki sejuta potensi ini tidak kita manfaatkan bagi kepentingan bangsa.  Khususnya di era globalisasi dimana tiap bangsa dituntut untuk memiliki spesialisasi. Kita dapat memanfaatkan potensi budaya lokal ini untuk mengembangkan industri kreatif kita. Batik merupakan salah satu contoh kecil penerapan budaya lokal pada industri kreatif. Masih banyak hasil kebudayaan kita yang belum tereksplorasi oleh industri kreatif. Oleh karena itu, selain kita memperkokok kemampuan untuk dapat bersaing di era perdagangan bebas, kita pun dapat menunjukan identitas kita sebagai suatu bangsa melalui industri kreatif berlandaskan kebudayaan lokal nusantara.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ednref1">[1]</a> http://www.kapanlagi.com/h/pemerintah-siap-renegosiasi-fta-asean-china.html</p>
<p><a href="#_ednref2">[2]</a> http://vibizdaily.com/detail/Bisnis/2010/01/22/sekilas_kronologis_acfta</p>
<p><a href="#_ednref3">[3]</a> ibid</p>
<p><a href="#_ednref4">[4]</a> http://jjfmradio.com/content.php?menu=24&amp;content=973&amp;category=50</p>
<p><a href="#_ednref5">[5]</a> http://www.freshnessmag.com/2006/10/14/adidas-materials-of-the-world-indonesia/</p>
<p><a href="#_ednref6">[6]</a> http://www.antarajatim.com/lihat/berita/25414/Aku-Cinta-Indonesia-Perketat-Derap-Langkah-FTA</p>
<p><a href="#_ednref7">[7]</a> Ibid</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/karya/esei-karya/potensi-industri-kreatif-berlandaskan-budaya-indonesia-dalam-menghadapi-badai-ac-fta-932/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fakta Di Balik Kepintaran Orang Yahudi</title>
		<link>http://dpm.web.id/motivasi/fakta-di-balik-kepintaran-orang-yahudi-921</link>
		<comments>http://dpm.web.id/motivasi/fakta-di-balik-kepintaran-orang-yahudi-921#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jan 2010 03:34:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[resonansi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=921</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Satu kelemahan para idealis adalah hanya melihat sesuatu dari sudut pandang idealisme-nya saja. Stereotipe yang ada mampu menutup hal-hal positif yang dapat kita petik dari suatu objek. Apakah dengan ini semua, kita tak ingin mengadopsi value positif dari mereka dalam kapasitasnya sebagai sesama manusia?&#8221;
Tanpa bermaksud untuk mendramatisasi tentang orang Israel dan atau orang Yahudi, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/motivasi/fakta-di-balik-kepintaran-orang-yahudi-921"></a></div><p>&#8220;Satu kelemahan para idealis adalah hanya melihat sesuatu dari sudut pandang idealisme-nya saja. Stereotipe yang ada mampu menutup hal-hal positif yang dapat kita petik dari suatu objek. Apakah dengan ini semua, kita tak ingin mengadopsi value positif dari mereka dalam kapasitasnya sebagai sesama manusia?&#8221;</p>
<p>Tanpa bermaksud untuk mendramatisasi tentang orang Israel dan atau orang Yahudi, saya ingin berbagi informasi yang saya peroleh dari membaca terjemahan H. Maaruf Bin Hj Abdul Kadir (guru besar berkebangsaan Malaysia) dari Universitas Massachuset USA tentang penelitian yang dilakukan oleh DR.Stephen Carr Leon. Penelitian DR Leon ini adalah tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi.<br />
<span id="more-921"></span></p>
<p>Mengapa Orang Yahudi, rata-rata pintar ? Studi yang dilakukan mendapatkan fakta-fakta sebagai berikut :</p>
<p>Ternyata, bila seorang Yahudi Hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika. mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.</p>
<p>Setelah anak lahir, bagi sang ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code oil lever).</p>
<p>Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan,karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging , hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja.</p>
<p>Yang istimewa lagi adalah : Di Isarel, merokok itu tabu ! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi &#8220;gen&#8221; atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi &#8220;bodoh&#8221; atau &#8220;dungu&#8221;. Walaupun, kalau kita perhatikan , maka penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi ! Tetapi yang merokok , bukan orang Yahudi.</p>
<p>Anak-anak, selalu diprioritaskan untuk makan buah dulu baru makan nasi atau roti dan juga tidak boleh lupa untuk minum pil minyak ikan. Mereka juga harus pandai bahasa , minimum 3 bahasa harus dikuasai nya yaitu Hebrew, Arab dan bahasa Inggris. Anak-anak juga diwajibkan dan dilatih piano dan biola. Dua instrument ini dipercaya dapat sangat efektif meningkatkan IQ mereka. Irama musik terutama musik klasik dapat menstimulasi sel otak. Sebagian besar dari musikus genius dunia adalah orang Yahudi.</p>
<p>Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematik dengan konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan. Ternyata salah satu syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah, dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang), harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar. Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi. Design &#8220;Levis&#8221; terakhir diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas &#8220;business and fashion&#8221;.</p>
<p>Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak, Memanah dan Lari. Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang mudah untuk &#8220;fokus&#8221; dalam berpikir !</p>
<p>Di New York, ada pusat Yahudi yang mengembangkan berbagai kiat berbisnis kelas dunia. Disini terdapat banyak sekali kegiatan yang mendalami segi-segi bisnis sampai kepada aspek-aspek yang mempengaruhinya. Dalam arti mempelajari aspek bisnis yang berkaitan juga dengan budaya bangsa pangsa pasar mereka. Pendalaman yang bergiat nyaris seperti laboratorium, &#8220;research and development&#8221; khusus perdagangan dan bisnis ini dibiayai oleh para konglomerat Yahudi. Tidak mengherankan bila kemudian kita melihat keberhasilan orang Yahudi seperti terlihat pada : Starbuck, Dell Computer, Cocacola, DKNY, Oracle. pusat film Hollywood, Levis dan Dunkin Donat.</p>
<p>Khusus tentang rokok, negara yang mengikuti jejak Israel adalah Singapura. Di Singapura para perokok diberlakukan sebagai warga negara kelas dua. Semua yang berhubungan dengan perokok akan dipersulit oleh pemerintahnya. Harga rokok 1 pak di Singapura adalah 7 US Dollar, bandingkan dengan di Indonesia yang hanya berharga 70 sen US Dollar. Pemerintah Singapura menganut apa yang telah dilakukan oleh peneliti Israel , bahwa nekotin hanya akan menghasilkan generasai yang &#8220;Bodoh&#8221; dan &#8220;Dungu&#8221;.</p>
<p>Percaya atau tidak, tentunya terserah kita semua. Namun kenyataan yang ada terlihat bahwa memang banyak sekali orang yahudi yang pintar ! Tinggal, pertanyaannya adalah, apakah kepintarannya itu banyak manfaatnya bagi peningkatan kualitas hidup umat manusia secara keseluruhan.</p>
<p>Sumber: Chappy Hakim, Marsekal TNI Purnawirawan, Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/motivasi/fakta-di-balik-kepintaran-orang-yahudi-921/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Digitalisasi Kearsipan Inklusif untuk Bangsa</title>
		<link>http://dpm.web.id/karya/esei-karya/digitalisasi-kearsipan-inklusif-untuk-bangsa-909</link>
		<comments>http://dpm.web.id/karya/esei-karya/digitalisasi-kearsipan-inklusif-untuk-bangsa-909#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 10:39:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Essay]]></category>
		<category><![CDATA[arsip nasional]]></category>
		<category><![CDATA[lomba kearsipan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=909</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa yang besar menghargai sejarahnya. Ungkapan ini seakan menohok kita sebagai sebuah bangsa di era globalisasi. Ketika batas antar bangsa menjadi kabur, satu hal yang kita butuhkan adalah identitas. Bagaimana untuk menjadi sebuah bangsa yang memiliki cirri khas tertentu. Tidak mengikuti arus budaya hedonisme dan materialisme globalisasi. Namun untuk menemukan identitas itu, kita terlebih dahulu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/karya/esei-karya/digitalisasi-kearsipan-inklusif-untuk-bangsa-909"></a></div><p>Bangsa yang besar menghargai sejarahnya. Ungkapan ini seakan menohok kita sebagai sebuah bangsa di era globalisasi. Ketika batas antar bangsa menjadi kabur, satu hal yang kita butuhkan adalah identitas. Bagaimana untuk menjadi sebuah bangsa yang memiliki cirri khas tertentu. Tidak mengikuti arus budaya hedonisme dan materialisme globalisasi. Namun untuk menemukan identitas itu, kita terlebih dahulu harus mengenal sejarah bangsa. Tanpa mengenali sejarah, mustahil kita sadar siapa dan apa diri kita ini.<br />
<span id="more-909"></span></p>
<p>Sejarah suatu bangsa dimulai saat manusianya telah mampu meninggalkan catatan tertulis. Para ahli meyakini bahwa prasasti Yupa milik Kerajaan Kutai yang dibuat pada abad ke-4 Masehi adalah tonggak awal bangsa Indonesia meninggalkan masa prasejarah. Beralih untuk dapat mendokumentasikan kegiatan hidupnya melalui tulisan. Dokumentasi sejarah masa lalu tersebar di berbagai media seperti kulit hewan, tulang, atau batu prasasti. Dalam tiap prasasti, dapat kita temui informasi mengenai silsilah raja atau kejadian besar pada masanya. Dengan kata lain, sejak manusia menginjakan kakinya di zaman sejarah, proses kearsipan telah dimulai meski dalam bentuk yang masih sederhana.</p>
<p>Di masa pascakemerdekaan, bangsa Indonesia telah mengenal system kearsipan yang modern. Arsip Nasional Republik Indonesia adalah sebuah lembaga non departemen yang pada saat ini mengurusi masalah kearsipan nasional. Di dalamnya terdapat kepingan mozaik perjalanan bangsa Indonesia sejak masa kongsi dagang VOC, pemerintahan Inggris oleh Rafles, pemerintahan colonial Hindia Belanda, masa pendudukan Jepang, dan era kemerdekaan. Dokumentasi yang tersedia berupa lembaran manuskrip kuno, foto negative dan positif, film, atau bentuk dokumentasi lainnya. Semuanya tersusun dan terjalin membentuk sebuah kata besar identitas bangsa Indonesia.</p>
<p>Namun, akan terdapat beberapa masalah dari system kearsipan saat ini jika dikaitkan dengan perkembangan globalisasi yang semakin cepat. Pertama, apa yang akan terjadi apabila kepingan mozaik sejarah itu hilang atau rusak? Maka dapat dipastikan generasi mendatang yang tak sempat melihat dokumentasi itu akan kehilangan sebagian dari identitas keindonesiannya. Tak dapat kita pungkiri system penyimpanan arsip memiliki kekurangan. Artevak-artevak dan dokumentasi sejarah itu tidak dapat bertahan selamanya. Mereka suatu saat akan pula dimakan usia dan hancur. Seperti apa yang diberitakan di harian Kompas 12 Februari 2003, diketahui bahwa beberapa rekaman kunjungan Bung Karno ke beberapa negara dalam keadaan rusak dan tak dapat diputar kembali. Fakta ini sudah barang tentu akan mengancam eksistensi Indonesia sebagai sebuah bangsa jika kehilangan bukti-bukti perjalanan sejarahnya.</p>
<p> Selain itu, masyarakat umum dan pelajar selama ini menganggap kunjungan ke museum atau tempat serupa seperti Arsip Nasional adalah sesuatu yang membosankan. Tempat pusat sejarah dan informasi bangsa ini acap kali terlihat sepi pengunjung. Ia seakan menjadi saksi bisu akan ketidakpedulian bangsa Indonesia terhadap dirinya sendiri. Bagaimana suatu bangsa dapat menemukan identitasnya jika tak kenal akan sejarah? Namun, penulis beranggapan bahwa perlu ada transformasi dalam system kearsipan agar sesuai dengan perkembangan teknologi yang ada, sehingga arsip memiliki masa durabilitas yang lebih panjang dan mampu diakses oleh masyarakat umum secara luas. Oleh karena itu, diyakini penerapan teknologi digitalisasi kearsipan akan mampu membuat Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) lebih dekat dan inklusif.</p>
<p>Ada dua keuntungan utama dari digitalisasi kearsipan nasional. Pertama adalah keterjaminan eksistensi arsip sejarah bangsa. Kita semua sadar bahwa bentuk fisik dari arsip baik dalam bentuk lembaran, foto, atau rol film tidak abadi. Keberadaannya amat rentan dengan waktu. Akan menjadi sebuah kerugian besar jika bangsa ini sampai kehilangan arsip sejarahnya. Kasus hilangnya surat perintah sebelas Maret (super semar) yang diangap sebagai tonggak pertama berdirinya orde baru patut menjadi pelajaran bagi kita semua. Perlu adanya system back up yang professional demi menjamin eksistensi arsip nasional.</p>
<p> Kegiatan back up arsip ke dalam format digital adalah solusi terbaik di era teknologi seperti sekarang ini. Tidak memerlukan biaya yang besar, namun amat efektif dan efisien dalam menjawab tantangan zaman. Arsip yang berupa lembaran dapat kita jaga masa keberadannya dengan menduplikasikan dalam bentuk file berformat pdf atau text lainnya. Keadaan secara tampilan dan informasi tetap sama meski kita tidak menyentuh arsip secara langsung. Lalu arsip yang berupa foto juga dapat lebih dijaga dengan menduplikasikannya dalam bentuk foto digital. Sudah banyak software yang mampu membuat duplikasi semirip mungkin. Jadi tak perlu diragukan kualitasnya dengan arsip otentik. Berikutnya yang lebih penting lagi adalah pada dokumentasi yang berupa film. Rol film tidak bertahan sampai ratusan tahun. Lama kelamaan pita film akan rusak dan tak dapat diputar lagi. Proses digitalisasi ke dalam format video adalah sebuah langkah yang brilian. Selama system komputerisasi tetap terjaga dan tentu saja didukung oleh system database yang baik, maka arsip digital ini akan dapat terus dinikmati oleh beberapa generasi ke depan.</p>
<p>Selanjutnya, keuntungan kedua dari proses digitalisasi kearsipan ini mampu membuat ANRI lebih dekat dan bermanfaat bagi generasi pada masanya. Tak dapat dipungkiri, saat ini masyarakat kita terutama generasi mudanya amat dekat dengan dunia teknologi internet. Para pelajar dan mahasiswa lebih cenderung untuk mencari informasi melalui internet daripada berkunjung ke perpustakaan. Fenomena ini selayaknya turut menjadi pertimbangan oleh ANRI. Sistem digitalisasi kearsipan di sisi lain juga mendukung proses publikasi kearsipan kepada masyarakat luas. Tiap arsip yang telah diproses dalam bentuk digital dapat dipublikasikan melalui media internet. Tiap kita pengguna internet dapat mengaksesnya tanpa perlu datang ke gedung ANRI. Hanya perlu klik situs ANRI kemudian telusuri katalog kearsipan dan dengan mudah pengguna menemukan informasi yang ingin dicari.</p>
<p>Kebijakan mendekatkan ANRI dengan masyarakat ini tentu saja akan memberikan kontribusi besar bagi penguatan identitas bangsa. Ketika kita diberi kemudahan dalam mengakses arsip nasional kita, sudah pasti masyarakat kita akan melek sejarah dan sadar dengan identitas keindonesiaannya. Tanpa mengenal sejarah sekali lagi, mustahil bangsa ini terutama generasi mudanya paham akan jati diri keindonesiaannya. Penulis secara pribadi mengerti permasalahan ini. Informasi tentang sejarah bangsa yang didapatkan selama berada di banku sekolah amat minim dan hanya berupa interpretasi dari sejarawan. Masyarakat perlu diberi akses luas dalam menelusuri sejarahnya sendiri. Sehingga demikian, kita sebagai bangsa mampu mendapatkan pemahaman yang komprehensif dari tiap arsip nasional yang kita miliki.</p>
<p>Namun, dari proses digitalisasi ini penulis pun menyadari ada kemungkinan untuk manipulasi informasi. Saat arsip asli diduplikasikan ke dalam proses digital, rentan adanya kemungkinan kesalahan informasi baik tidak disengaja atau disengaja. Kesalahan informasi ini akan sangat berbahaya bagi penelusuran sejarah bangsa karena masyarakat akan dengan bebas dapat mengakses arsip berformat digital. Oleh karena itu, perlu ada suatu lembaga khusus dalam mengawasi proses ini. Lembaga yang independen dan transparan. Pemerintah atau kelompok kepentingan tertentu tidak dapat melakukan intervensi terhadap keotentikan informasi pada arsip.</p>
<p>Terakhir adalah membentuk ANRI yang inklusif bagi semua orang. Kita sadar atau tidak, masyarakat kita tidak semua mampu mengakses gedung ANRI baik dari segi pertimbangan jarak atau aksesibilitas. Sistem kearsipan nasional yang masih tercentralisasi besar kecilnya cukup membatasi kemampuan masyarakat daerah di luar Jakarta untuk mengakses informasi kearsipan. Jarak dan biaya merupakan salah satu faktor yang cukup dipertimbangkan oleh masyarakat kita meski untuk mendapatkan pengetahuan. Kecenderungan ini harus turut diperhatikan oleh ANRI. Publikasi seluruh arsip nasional yang bersifat bebas, akan memberikan kemudahan dan mereduksi rasa enggan masyarakat daerah untuk memperoleh informasi sejarah bangsa. Sehingga demikian, distribusi informasi dalam rangka pembentukan identitas bangsa melalui penelusuran sejarah akan merata di tiap pelosok wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.</p>
<p>Selain itu, kita pun tidak dapat mengabaikan bahwa ada sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki keterbatasan fisik. Para penyandang cacat fisik ini akan amat terbantu dengan publikasi digital melalui internet arsip nasional. Mereka tak perlu pergi ke ANRI pusat untuk mendapatkan informasi kearsipan. Cukup berada di depan komputer, dan porsi informasi yang didapat sama dengan mengunjungi secara langsung ke ANRI pusat. Untuk masyarakat tunanetra pula akan amat dimudahkan. Dengan program screenreader atau pembaca layar yang digunakan oleh para tunanetra, mereka mampu browsing data secara bebas melalui media komputer dan internet. Digitalisasi arsip yang berbentuk tulisan dalam format PDF atau file text lainnya, akan mempermudah tunanetra dalam proses penelusuran data. Meski untuk dokumentasi berupa foto digital tunanetra tidak mampu mengakses visualnya, pihak ANRI seyogyanya memberikan deskripsi foto untuk tetap menjamin keaksesibilitasan arsip. Sedangkan untuk dokumentasi film bersejarah, perlu ada manipulasi berupa narasi terintegrasi saat film diputar pada komputer. Dengan hal-hal ini, diyakini ANRI menjadi inklusif dalam distribusi informasi arsip nasional kepada seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.</p>
<p>Dapat disimpulkan bahwa sistem digitalisasi arsip nasional merupakan solusi terbaik di era modern dan globalisasi ini. Di saat identitas tiap bangsa semakin kabur, ANRI sebagai lembaga penyimpanan dokumentasi bangsa memiliki tanggung jawab dalam penguatan identitas. Distribusi informasi arsip nasional yang meluar dengan media internet, diyakini dapat mendukung eksistensi keindonesiaan masyarakat. Tambahan lagi, proses digitalisasi ini akan mampu pula membangun ANRI sebagai institusi yang inklusif. Arsip nasional mampu diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan jarak dan fisik. Mari bersama Arsip Nasional Republik Indonesia kita bangun masyarakat yang paham dengan identitas keindonesiaannya.</p>
<p>catatan: naskah pernah diikutsertakan dalam lomba karya tulis kearsipan ANRI 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/karya/esei-karya/digitalisasi-kearsipan-inklusif-untuk-bangsa-909/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Application of Gricean Maxims In Nasreddin’s Stories</title>
		<link>http://dpm.web.id/akademis/test/application-of-gricean-maxims-in-nasreddins-stories-907</link>
		<comments>http://dpm.web.id/akademis/test/application-of-gricean-maxims-in-nasreddins-stories-907#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 09:44:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[exams]]></category>
		<category><![CDATA[final project]]></category>
		<category><![CDATA[semantic and pragmatic]]></category>
		<category><![CDATA[semester 5]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=907</guid>
		<description><![CDATA[Introduction
As a human, we have two-side of roles. They are we as an individual and we as the part of a society. In order to interact to the other human in society, we use language as the tool. “Language is a way to communicate ideas comprehensibly from one person to another in such a way [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/akademis/test/application-of-gricean-maxims-in-nasreddins-stories-907"></a></div><p>Introduction</p>
<p>As a human, we have two-side of roles. They are we as an individual and we as the part of a society. In order to interact to the other human in society, we use language as the tool. “Language is a way to communicate ideas comprehensibly from one person to another in such a way that the other will be able to act exactly accordingly. The transportation of such ideas could be acquired by either verbal expression and signing with gestures and images”<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn1">[1]</a>. The language absolutely should be understood by the members. It is like an agreement which is made to link one and the other. As the result, the members in the society must learn the agreed language to keep their existence. If one of the members can not use the tool, it would kick him out from the society.</p>
<p><span id="more-907"></span></p>
<p>Commonly, language is used to exchange a message between at least two people. When someone wants to tell some information, he uses language as the medium. It can be in written or spoken language. According to Kamil Wisnewski, the function of language as communication tool is very important “This function would probably be pointed at by most language users without major consideration. Indeed it is in all likelihood most commonly used language function by majority of speakers. Requesting, apologizing, informing, ordering as well as promising and refusing are all reasons for communicating our ideas”<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn2">[2]</a>. However, in daily life, language is not used only for the device of communication. People often use language as a kind of technique in carrying a certain implied message. For example, when we come to a room which is very hot, we say “It’s very hot here”. In fact, it’s a request to our friend to open the window or switch on the air conditioner. That’s the other usage of language. We can ask something without point to the object directly.</p>
<p>Moreover, language as the technical is also used in political matter. In Indonesia, we still remember the case of Bibit Slamet Rianto and Candra Muhammad Hamzar. They are two of Komisi Pemberantasan Korupsi leaders which are trapped in a bribary case. While most of Indonesians support them to be released from all accusation, it pressure government to stop the case. Finally, President Susilo Bambang Yudhoyono decide to realse Bibit and Chandra. Instead of command directly the judiciary to realease them, he said in his speech to settle the problem out side the court. Although he didn’t say to release them directly, the effect is absolutely same. In this example, also we can see the language which is used as the technique.</p>
<p>In literature, language is also put as technique. As the product of culture, literature creates as the result of certain society. It contains the characteristic of the society. How they use the language to express something. In literature, also we notice a term called figurative language. This is the language that has second layer meaning. In other words, to catch the meaning implied, we need to dig it deeper. For instance, we can see at an idiom “butterfingers”. This word is not aimed to describe a person who smears his finger with butter; it has meaning a person who often let something fall from his grip. Therefore, it is one of technique in poetic rules to use a language as beautiful as possible.</p>
<p>Moreover, in daily conversation, in order to creating a joke, sometimes people manipulate a language. This reason is used to make something funny or tricky. If the speaker and the listener do not have the same semantic concept, the utterance which is stated by the speaker would deceive the listener completely. In this essay, I would like to analyze the language deviation which is used in the Nasreddin Stories. How the story break the rules which are said by Paul Grice about his 4 Maxims: Maxim of Quality, Maxim of Quantity, Maxim or Relevance, and the Maxim of manner.</p>
<p>Gricean Maxims</p>
<p>In daily conversation, it must be an interaction between at least two people. When somebody asks something, the receiver must answer with an appropriate answer. For instance, when somebody ask “do you feel hungry?”, and we answer “Yes I do”. That example shows the clear and efficient answer which is expected by the speaker. However, let’s compare to this case. Somebody ask “Do you feel hungry?”, and we reply “I’ve not eaten for three days”. In speaker’s mind, he has got the answer that is the hearer feels hungry, but looks at the answer. If we see in the glance, is it appropriate? In fact, the hearer can only reply with “yes” or “yes, I do”. In this case, the hearer answer it exaggerately in order to emphasize his message. The hearer wants to add the additional message that he feels very hungry, not means that he really hasn’t eaten for 3 days. Moreover, let’s we review all the four Grice’s Maxims.</p>
<ol>
<li>Maxim of Quantity.</li>
</ol>
<p>In this maxim, in order to make an appropriate language, we should make our contribution to the conversation as informative as necessary. Also, do not make our contribution to the conversation more informative than necessary<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn3">[3]</a>.</p>
<p>For example is when somebody asks about direction or the location of certain place. “Where is the cinema?” Normally, as the good person, we give the clear instruction how to go to the place. We can reply “From here, go ahead to the travick light, after that, turn left and you will see the cinema at the left side”. This is an appropriate answer that fulfills the Maxim of Quantity. However, we also meet a person who replies with this answer “Not far”, or “near the post office”. In fact, it is true that the cinema is not far or near the post office, but the information is not enough for somebody who need to find the cinema without a map. To sum it up, we can say that the answer “not far” or “near the post office” is breaking the Maxim of Quantity.</p>
<ol>
<li>Maxim of Quality.</li>
</ol>
<p>In this maxim, the hearer should fulfill two requirements in order to make an appropriate language. In this rule, we should not say what we believe to be false, and also do not say that for which we lack adequate evidence<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn4">[4]</a>.</p>
<p>For example, this maxim can be seen at the moment when somebody is lying. Most of Jakarta citizens has known that Ragunan zoo is located in south of Jakarta. However, to make a fun, someone trick his friend who come from village by saying that Ragunan zoo is located in west of Jakarta. Indeed, it breaks the Maxim of Quality by saying untrue statement. Moreover, we also can see the deviation to Maxim of Quality when somebody answers a question exaggeratedly. He lies to add moor effect to his answer. Let’s see the following conversation.</p>
<p>A: “have you gone to Borobudur temple?”</p>
<p>B: “yes, I’ve visited it for a thousand times”.</p>
<p>On that example, definitely we see that the hearer is lying. It is impossible for a tourist for visit a place a thousand times. However, his reason for answering the question like that is to add more impression that he really love that place.</p>
<ol>
<li>Maxim of Relevance.</li>
</ol>
<p>In this maxim, we are supposed to answer something relevantly. Between the question and the answer must have a clear link. To follow this maxim, we must make our contribution relevant to the interaction,and indicate any way that it is not connected<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn5">[5]</a>.</p>
<p>In this case, people often answer one’s question with the unrelevant one. This action is not because of the hearer doesn’t understand to the question, but it must be a certain amin inside. Let’s see the following example.</p>
<ol>
<li>“Do you know where is my shoes?”</li>
<li>“Good night.”</li>
</ol>
<p>In that example, we can see obviously the deviation of maxim of relevance. The answer is definitely not relevant with the question. Normally, the answer can be “in the garage”, or “I don’t know”. However, one of the possibilities of doing such thing is because the hearer doesn’t want to help A to finding his shoes.</p>
<ol>
<li>Maxim of Manner.</li>
</ol>
<p>In order to follow this maxim, we should pay attention to several points:</p>
<p>a. Avoid obscurity of expression.</p>
<p>b. Avoid ambiguity.</p>
<p>c. Be brief (avoid unnecessary wordiness).</p>
<p>d. Be orderly<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn6">[6]</a>.</p>
<p>The breaking of this kind of maxim is usually aimed to hidden the real reason. Someone uses this technique to avoit the tottaly lying. As long the hearer doesn’t realize to the truth, it is still fine. Let’s see the following example:</p>
<p>A: “Where is your college?”</p>
<p>B: “my college is in Depok”</p>
<p>A: “oh, in Universitas Indonesia?”</p>
<p>B: yeah, my college is in Depok”.</p>
<p>From that example, we can see the hearer reply the question with an ambiguous answer. He tells the fact that his college is in Depok, but it is not specifically. As we know, the college in Depok not only Universitas Indonesia, there are also Gunadharma and BSI. However, the hearer uses this technique to hidden the fact that his college is not in Universitas Indonesia.</p>
<p>Nasreddin Stories Analysis</p>
<p>In this part, we will take some Nasreddin Stories as the sample to fine the Maxim deviation. There would be a term “implicature”. However, An implicature is anything that is inferred from an utterance, but that is not a condition for the truth of the utterance<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn7">[7]</a>. Let’s review the story first, and then find out the the Maxim abuse.</p>
<ol>
<li> 
<ol>
<li>On the Roof<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn8">[8]</a>.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p> </p>
<p>Nasreddin Hodja&#8217;s old house had a leaking roof. One day the Hodja decided to fix it. He borrowed a ladder and with great difficulty climbed up to the roof.</p>
<p>Just as he was setting off to work, he heard a knock on the door. He looked down from the edge of the roof and saw a stranger in front of his door.</p>
<p>`I am up here.&#8217; Hodja shouted. When the man looked up, `What is it that you want?&#8217; he asked him.</p>
<p>`Please come down,&#8217; replied the man, `I have something to say to you.&#8217;</p>
<p>Hodja precariously descended down the old ladder. Once on the ground he again asked the man what he wanted.</p>
<p>`Alms,&#8217; said the man, `could you spare some alms.&#8217;</p>
<p>Hodja thought for a second and then told the man to come up to the roof with him. Hodja in front, the beggar behind him, both running short on breath, climbed</p>
<p>up the ladder. Once on the roof top, Hodja turned to the man and said: `I don&#8217;t have any.&#8217; </p>
<p>Analysis:</p>
<p>In the story, Nasreddin break the maxim of manner. In order to revenge the annoying stranger, he do something very ambiguous. At the first, the stranger call Nasreddin to go down because he want to say something to him. In fact, the stranger just wants to ask for an alms. Nasreddin feels annoyed because he had go to the roof difficultly. Then, he ask the stranger to come up with him. At the roof, Nasredin reply his answer by saying “ I don’t have any”.</p>
<p>Implicature: yes.</p>
<p>When Nasreddin ask the stranger to come up with him, the stranger has the conclusion that Nasredding will give him any alms. In the fact, it is an ambiguous statement because Nasreddin didn’t say to give him an alms before. Also, in this case, Nasreddin didn’t lie completely because he definitely didn’t promise the stranger to give him any alms before. Therefore, this story is breaking the maxim of manner.</p>
<ol>
<li> 
<ol>
<li>Gift Rabbit<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn9">[9]</a>.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p> </p>
<p>A few people from another village, mere acquaintances of Nasreddin Hodja, were in Aksehir for some trade business. At the end of the day, they knocked on</p>
<p>Hodja&#8217;s door.</p>
<p>`Hodja Effendi, since we were in town, we thought we should pay you a little visit. And, here is a rabbit as a token of our respect for you.&#8217;</p>
<p>Hodja welcomed the guests as is the Turkish tradition and asked them to stay for dinner. Hodja&#8217;s wife cooked the rabbit and they all made a good meal of</p>
<p>it. A few days later, there were people at the door again. Hodja didn&#8217;t know who they were, so they had to introduce themselves.</p>
<p>`Nasreddin Hodja, we are the relatives of the folks who brought you the rabbit.&#8217; they explained. They were passing through Aksehir and they thought they</p>
<p>drop by. Nasreddin Hodja and his wife opened their home to them as well. They served soup for dinner.</p>
<p>`It is the broth of the rabbit.&#8217; elucidated the Hodja.</p>
<p>Another couple of days passed and there was yet another group of strangers at Hodja&#8217;s door.</p>
<p>`We come from the neighbour village of the people who brought you the rabbit.&#8217; they said. Hodja had no choice but to let them in. When it was dinner time,</p>
<p>Hodja brought a large pot full of well water to the table.</p>
<p>`What is this, Hodja Effendi?&#8217; inquired the displeased guests.</p>
<p>`It is the broth of the broth of the rabbit.&#8217; Hodja snapped. </p>
<p>Analysis:</p>
<p>In the second story, we can see the last dialogue that  breaks the maxim of quality. When the guests who come from the neighbor of a group that give Nasreddin a rabit, he bring a large pot that full of well water to the table. When he asked, he said “It is the broth of the broth of the rabit”. Definitely, it is not true by stating the well water is the broth of the broth of the rabbit. In this case, Nasreddin lies to emphasize the point that he doesn’t have the rabbit soup anymore. It is his technique to realize the annoying visitors.</p>
<p>Implicatures: no.</p>
<p>When the visitors see the well water and Nasreddin tells them that is the broth of the broth of the rabbit, they understand that the rabbit soup is no longer available. The Nasreddin last statement has given the clear message that they won’t get the Rabbit soup. Therefore, the Nasreddin dishonesty is aimed to say that he doesn’t have the rabbit soup anymore.</p>
<ol>
<li> 
<ol>
<li>Full House<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn10">[10]</a>.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p> </p>
<p>One of Nasreddin Hodja&#8217;s neighbours asked the Hodja for some advice on how to manage his large family in his tiny little house.</p>
<p>`Hodja Effendi,&#8217; he lamented, `our quarters are so small, we can&#8217;t all fit in. Me and my wife, my mother-in-law, 3 kids&#8230; We are cramped up in our puny</p>
<p>cottage. You are a wise man, you would know of a solution, please tell me what to do!&#8217;</p>
<p>`How many chickens do you have in the barn?&#8217; Hodja asked.</p>
<p>`Why, Hodja Effendi, I have 5 chickens and a rooster.&#8217;</p>
<p>`Take them all into the house!&#8217;</p>
<p>`Mercy!&#8217; the poor peasant protested, `Hodja Effendi, the house is small without the chickens.&#8217;</p>
<p>`Try it!&#8217; Nasreddin Hodja insisted, `You will be grateful to me.&#8217;</p>
<p>The neighbour was not convinced but he didn&#8217;t dare question the wisdom of the Hodja. He took the chickens and the rooster inside the house. The next morning</p>
<p>he ran to Hodja&#8217;s house.</p>
<p>`Hodja Effendi, it is worse now. Me, my wife, my mother-in-law, 3 kids, 5 chickens and a rooster! We can&#8217;t fit in at all!&#8217; he bemoaned. However, Nasreddin</p>
<p>Hodja was not moved.</p>
<p>`You have a donkey, don&#8217;t you?&#8217;</p>
<p>`Yes, Hodja Effendi, I have one old donkey.&#8217; answered the man.</p>
<p>`Take the donkey in!&#8217; said the Hodja. No matter how much the neighbour objected, Nasreddin Hodja maintained that it was for his best and the hopeless man</p>
<p>did as he was told. The next morning, he ran back to Hodja&#8217;s house, this time more despairingly than ever.</p>
<p>`Hodja Effendi! It is not possible. The wife, the mother-in-law, the kids, the chickens, the rooster and the donkey! We had a terrible night. There is no</p>
<p>room to breathe.&#8217;</p>
<p>`If I remember correctly, you had two lambs, did you not?&#8217;</p>
<p>`Oh, no! Hodja Effendi, don&#8217;t tell me to take the lambs in. There is no room!&#8217;</p>
<p>`Don&#8217;t worry, my friend,&#8217; the Hodja assured the desperate man, `You will thank me in the end.&#8217; The neighbour, hoping the Hodja knows something that he doesn&#8217;t,</p>
<p>took the two lambs in that night. The next morning he was at Hodja doorstep, wretched.</p>
<p>`Hodja Effendi, what are you doing to us? The house is packed full. My mother-in-law is threatening to kill me, my wife is threatening to leave me. This</p>
<p>is not working at all.&#8217;</p>
<p>Nasreddin Hodja considered for a moment, then he said:</p>
<p>`Now, take all the live stock out of the house. Chickens, rooster, donkey and lambs; all back to the garden, back to the barn, back to the shed. Take them</p>
<p>all out!&#8217;</p>
<p>Next morning, the neighbour was once again at Hodja&#8217;s house.</p>
<p>`Ahh, Hodja Effendi, you are indeed a wise man. You solved my problem. Now, our house is so large, so roomy, so much space for everyone, kids can play,</p>
<p>we can sleep, everyone is happy.&#8217; he said, `Thank you and may Allah bless you!&#8217;</p>
<p>analysis:</p>
<p>In this story, Nasreddin breaks the maxim of relevance. Indeed, it can be seen when his neighbor ask him for a solution of managing his large family in a small house, Nasredin give the unrelevant answer. Instead of telling the way how to manage the large family, Nasreddin ask the neighbor to add his chicken, donkey, and lambs into the house. In fact, although the neighbour fee;feels it is such an illogic, he keep doing the advice.</p>
<p>Implicature: no.</p>
<p>When the neighbour get the Nasreddin’s answer, actually he didn’t understand with the answer. The answer is not something that he expected. Nasreddin just ask him to do something irrelevant. However, at the end, the neighbour get the result. After he take all his live stock out, the family can feel the meaning of space. Therefore, Nasreddin give the irrelevant answer in order to teach his neighbour.</p>
<ol>
<li> 
<ol>
<li>Pivotal Point<a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftn11">[11]</a>.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p> </p>
<p>One idle day, the villagers were contemplating philosophical thoughts and deliberating the mysteries of the universe. Since they weren&#8217;t getting anywhere</p>
<p>with their reflections, they decided to solicit the wisdom of Nasreddin Hodja.</p>
<p>`Hodja Effendi,&#8217; they said, `you are a learned man, maybe you can shed a light on this puzzle. Where is the centre of the earth?&#8217; Nasreddin Hodja didn&#8217;t</p>
<p>skip a beat.</p>
<p>`Right under the left front foot of my donkey.&#8217; he said.</p>
<p>`Hodja Effendi,&#8217; protested the villagers, `that can&#8217;t be right!&#8217;</p>
<p>`If you don&#8217;t believe me,&#8217; said The Hodja, `measure it for yourself!&#8217; </p>
<p>Analysis:</p>
<p>In this story, Nasreddin breaks the maxim of quantity. When answering the villager question, Nasreddin answer is not as informative as that is needed by the villager. Instead of answer the question scientifically, he just reply by saying “right under the front left foot of my donkey”. AS the result, the villager didn’t feel satisfied to the Nasreddin’s answer.</p>
<p>Implicature: no.</p>
<p>In the villager’s mind, he can infer the aim of Nasreddin. According to the Nasreddin answer, it can be seen that Nasreddin doesn’t know where is the centralof the world. He just answer the question whatever it is, and ignore the villager’s question. However, this kind of abuse is used by Nasreddin to hidden his unawareness which the answer should be longer than the Nasreddin answer.</p>
<p>Conclusion</p>
<p>It is very interesting to learn the four type of maxims. We can meet them in our daily life. Perhaps we often use the rules in various occation. Moreover, in the literature, it breaks the maxims sometimes. The Nasreddin Stories is some of the examples. In order to make this story funny, the writer breaks some maxims.</p>
<hr size="1" /><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref1">[1]</a> http://www.signgenius.com/sign-language/definition-of-language.shtml Accesed at December 29th, 2009</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref2">[2]</a> http://www.tlumaczenia-angielski.info/linguistics/language-functions.htm accessed at December 29th, 2009.</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref3">[3]</a> http://en.wikipedia.org/wiki/Gricean_maxims accessed at December 29th, 2009.</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref4">[4]</a> http://ccat.sas.upenn.edu/~haroldfs/dravling/grice.html accessed at December 29th, 2009.</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref5">[5]</a> http://en.wikipedia.org/wiki/Gricean_maxims accessed at December 29th, 2009.</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref6">[6]</a> http://ccat.sas.upenn.edu/~haroldfs/dravling/grice.html accessed at December 29th, 2009.</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref7">[7]</a> http://www.sil.org/linguistics/GlossaryOfLinguisticTerms/WhatIsAnImplicature.htm accessed at December 29th, 2009.</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref8">[8]</a> http://www.readliterature.com/h010411.htm accessed at December 29th, 2009.</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref9">[9]</a> http://www.readliterature.com/h010416.htm accessed at December 29, 2009</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref10">[10]</a> http://www.readliterature.com/h010502.htm accessed at December 29th, 2009.</p>
<p><a href="http://dpm.web.id/wp-admin/post.php?action=edit&amp;post=907#_ftnref11">[11]</a> http://www.readliterature.com/h010413.htm accessed at December 29th, 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/akademis/test/application-of-gricean-maxims-in-nasreddins-stories-907/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Review of Article Education: a Keystone of Apartheid</title>
		<link>http://dpm.web.id/akademis/test/review-of-article-education-a-keystone-of-apartheid-904</link>
		<comments>http://dpm.web.id/akademis/test/review-of-article-education-a-keystone-of-apartheid-904#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 09:26:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[exams]]></category>
		<category><![CDATA[critical review]]></category>
		<category><![CDATA[final project]]></category>
		<category><![CDATA[semester 5]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=904</guid>
		<description><![CDATA[Johnson, Walton R. Autumn, 1982. “Education: Keystone of Apartheid” Anthropology &#038; Education Quarterly, Vol. 13, No. 3, African Education and Social Stratification (autumn, 1982), pp. 214-237Published by: Blackwell Publishing on behalf of the American Anthropological Association.
Basically, education is needed to transform the culture, norms, values, and build a person to understand better whatever around him. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/akademis/test/review-of-article-education-a-keystone-of-apartheid-904"></a></div><p>Johnson, Walton R. Autumn, 1982. “Education: Keystone of Apartheid” Anthropology &#038; Education Quarterly, Vol. 13, No. 3, African Education and Social Stratification (autumn, 1982), pp. 214-237Published by: Blackwell Publishing on behalf of the American Anthropological Association.</p>
<p>Basically, education is needed to transform the culture, norms, values, and build a person to understand better whatever around him. Each of us needs education, since child till the end of our life. However, something that essentially has good purpose, can also be an evil instrument depends on the ruler. Furthermore, it can be worse if the deviation was run by an official institution such a country. Walton R. Johnson, an admission counselor and former dean at Livingston College, analyze the implication of manipulating education in South Africa as the social stratification engineering in his article titled “Education: Keystone of Apartheid”. He explains thoroughly the Whites South Africa government policy in education that impact to the attempt of perpetuating the Whites supremacy toward the Africans. How the system of education methodically create the social discrimination in the society, and the effects to the Africans self-determination.<br />
<span id="more-904"></span></p>
<p>In this article, Walton R. Johnson tries to describe the condition of education in South Africa, and how it is being controlled as the device of social stratification mechanism. The investigation was begun with the history of education related to political and economic condition. In 17th century while the domination of Dutch; the education was not already managed systematically for both White and African. The education provided by only few churches. However, in 19th century while the arriving of British; they tried to create it more systematically. At the end of 19th century, both Afrikaners and English battle each other and separate their school. In 1892, the new public school was build, and can be entered only by the White till the 1967, the National Education Act obligate the separation between White and Africans. Moreover, this kind of policy is used to perpetuate the Apartheid system. Government takes the education as the social engineering that put the indigenous African at the subordinate position. However, Apartheid is also considered as the cultural system that defines the values, norms, and thinking’s. It builds the self-image that White Europeans have the unquestionable higher stratification than the Africans. The Africans were taught to be unequal to the Whites. Also, the alienated development in South Africa strengthens the fundamental Apartheid System. Both Whites and Africans put themselves separately include the education. At the end of the article, Johnson gives his view to the future of South Africa Education. He recommends the government to change the racially based education to the transformation of fundamental social stratification.</p>
<p>On the whole, Johnson manages his article in well-organized pattern. He opens his article with a very interesting citation. “We must strive to win the fight against the non-White in the classroom instead of losing it on the battlefield (Administrator of the Transvaal, 19612)”. This citation absolutely triggers the curiosity of the readers at the very beginning part. When see the citation, readers will get the clear hint what the article is going about. Moreover, he also arranges his article systematically. Start with the historical background, it tells readers how education develops in South Africa chronologically, since the Europeans arrival till the present time. Also, he put some headlines that strengthen the messages that he wants to tell. Bellow the each headlines, it contain several supporting ideas and details that make the explanation clearer.</p>
<p>The adding some data and evidence also make this article so convincing to the readers. Beside some facts provided, he gives also his analysis according to the each detail. For example, the facts that government just provides insufficient facility of education such as the number of school and teacher. “Due to shortage of space, roughly 50 percent of the African children entering the lowest primary grade are forced out before reaching the fourth year, completion of which is considered a minimum for the acquisition of functional literacy (Kaplan et al. 1971:231)”. Base on this fact, he connects to the impact of African’s lowest position in economy. “The 1979 Rickert Commission report found that 40 percent of the African male workforce in urban areas did not have educational qualifications sufficient to give them functional literacy, and the figure rose to 65 percent in the rural areas (Economist 6/21/80)”. At the result, he also gives his own opinion through the analysis. It makes readers get directly to the writer’s point. “Finally, African education, unlike white education, is of extraordinarily poor quality”.</p>
<p>Something that makes this article interesting is the fact that education in South Africa was used to support the Apartheid. In colonizing South Africa, Europeans prefer to civilize than fight against them. With education they systematically can defeat and take Africans in subordinate position. The fact that Africans always gain less qualified education brings them to the inferior power. In the curriculum, also government tries to build the African self-image toward the Whites. They teach the African pupils to understand that African is a kind of primitive before the arrival of Europeans, and don’t have any rights to be equal with the Whites. It means that education for both Whites and Africans were compulsory and managed by a certain act policy. However, This condition also occurred in Indonesia during the Dutch colonial domination in early 20th century. Dutch government provided an education to the Indonesians, but it is not compulsory. They who can gain the education were just the nobility children. In same case, the curriculum is the colonizer one, but it didn’t go as well as in South Africa because there was no racial separated development.  Also, the achieved Indonesian student can gain the equal education with the Europeans and learn in the same class among them.</p>
<p>Moreover, in analyzing the issue, Johnson pretends himself to be as neutral as possible. There is no bias point of view which pro to the Whites or vise versa. He also doesn’t accuse the Whites as the cruel one. Evidences were provided; it shows everything without blame only a certain side. One thing that he wants to suggest is the change toward the education system. Both Whites and Africans must have the equal position in political, economics, and social field. No more racial and ethnical based policy, something that South Africa must have is the more democratic society. </p>
<p>On the other hand, Johnson give the reader very philosophical and logical arguments. He believes that reformation in education system would bring the better society. When students which are Whites and Africans attend and share the same desk, indeed, it will change the people’s paradigm. When Whites feel comfortable interact to the Africans, They will think that the Homeland for Africans is not needed anymore. They can life together, and it can be taught in school. </p>
<p>The other strong point in Johnson’s articles is his complete solutions at the end section. After explaining all the evidence and analysis, he gives the solution and also recommendation to solve the problem. These solutions also can be considered as the conclusion of the article. Therefore, readers will get the climax and relation for all of the ideas in the analysis.</p>
<p>However, this article which was written in 1982 is not longer relevant with the current condition in South Africa. The apartheid system has been already erased, and the indigenous African has taken the main control in the government. Nelson Mandela from ANC party has elected as the first African President in Republic of South Africa. In addition, this article does not give any African’s opinion about the education itself. The survey which is mentioned only come from the Whites voices. As the reader, we can not notice whether the Africans have already satisfied with the system, or want something more than the reformation of education. Johnson’s article has closed the possibility that African also need the more political power in government. Not just be a good boy, and follow all White’s policy as long they fulfill the needs.</p>
<p>In conclusion, this article gives us new knowledge about the education condition in South Africa during the Apartheid system. Western civilization that named themselves with egalite, fraternite, and liberte, in fact still apply the discrimination method. Moreover, this article also extends our understanding that the power of education can be so huge. It depends to the user in which the purpose to. Finally, I recommend you to read this interesting article if you want to gain some new information about Apartheid and the education system.</p>
<p><a href='http://dpm.web.id/wp-content/uploads/2010/01/education-a-keystone-of-apartheid.pdf'>Download the Article</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/akademis/test/review-of-article-education-a-keystone-of-apartheid-904/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jois dan Sang Malaikat</title>
		<link>http://dpm.web.id/akademis/tugas/jois-dan-sang-malaikat-901</link>
		<comments>http://dpm.web.id/akademis/tugas/jois-dan-sang-malaikat-901#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 08:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Assignments]]></category>
		<category><![CDATA[kritik sastra]]></category>
		<category><![CDATA[semester 5]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=901</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen Lily Yulianti Farid
Di awal musim semi, Jois mengisyaratkan kematiannya. Rintihannya yang parau berbaur dengan aroma semlal Pulanglah!”
Langit Stockholm runtuh dibuatnya. Suara itu sepertinya bukan milik pendongeng masa kecilku, yang mengisahkan negeri kurcaci, petualangan anak nakal yang lobs dari sekapan nenek sihir, serta lelaki bertungkai panjang, yang membagi kembang gula. Jois yang kukenal, lihai mengubah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/akademis/tugas/jois-dan-sang-malaikat-901"></a></div><p>Cerpen Lily Yulianti Farid</p>
<p>Di awal musim semi, Jois mengisyaratkan kematiannya. Rintihannya yang parau berbaur dengan aroma semlal Pulanglah!”</p>
<p>Langit Stockholm runtuh dibuatnya. Suara itu sepertinya bukan milik pendongeng masa kecilku, yang mengisahkan negeri kurcaci, petualangan anak nakal yang lobs dari sekapan nenek sihir, serta lelaki bertungkai panjang, yang membagi kembang gula. Jois yang kukenal, lihai mengubah suara. Lembut, serak, merdu dan garang silih berganti saat berkisah. la yang terhebat. Yang mengayun imajinasiku ke segala penjuru.<br />
<span id="more-901"></span></p>
<p>”Tak pernah aku minta apa pun darimu. Sekali ini saja. Pulanglah.”</p>
<p>Suara dari sudut kota kecil nun di benua Selatan itu seperti badai salju ganas yang mengoyak jadwal hidup yang rapi.</p>
<p>Di kaca jendela kulihat seekor ulat daun melata, mendorong-dorong tubuhnya menyusuri bingkai. Pohon-pohon di tepi jalan terlihat seperti jejeran tonggak yang pasrah digunduli musim. Di trotoar, seseorang yang berlari pagi, berhenti membetulkan tali sepatu. Satu dua mobil melintas. Derunya menerobos hingga ke dapur. Musim semi telah mengirim isyarat, meski masih terlalu sedikit pucuk hijau yang muncul di pekarangan. Serangga-serangga mulai bergeliat. Langit tampak menggairahkan, biru menggeser kelabu.</p>
<p>Kepada Jois pernah kujanjikan sebuah pertemuan. Di musim panas Bukan sekarang, saat salju lebat yang memenjara baru saja usai. ”Pulanglah&#8230;”</p>
<p>Aku tahu jawaban yang hendak didengarnya.<br />
1</p>
<p>la tertawa. Rasa senang di seberang dengan mudah kubaca lewat suaranya yang berubah riang. la bercerita tentang rumah. Kabar yang disampaikannya itu kemudian tersumbat batuk dan napas tersengal. Percakapan kami terputus.</p>
<p>Mungkin a memang telah mendapatkan firasat.</p>
<p>Roti yang matang di pembakaran, harum pasta almond yang menguar, pemandangan pagi di jendela dan janji untuk pulang yang baru saja kuucapkan untuk Jois. Aku tahu, tak ada perayaan kecil menyambut musim semi kali mi. Tak mungkin.</p>
<p>Kusaksikan ulat daun di bingkai jendela tergelincir ke tanah. ***</p>
<p>SELALU kukirim kabar untuk Jois.</p>
<p>Ada bagian perjalananku yang rasa-rasanya mirip dengan dongeng yang dikisahkannya. Kutulis surat tentang jejak orang Viking, kastil megah dengan pucuk-pucuk tanpa bendera yang dipatuk burung-burung, padang rumput yang rebah di bawah bukit, yang menggodaku bergulingan seperti Pippi2, si bengal berkaus kaki panjang yang besar di karavan sirkus.</p>
<p>Da lam kesempatan lain kukatakan pada Jois, jangan khawatir, sejauh ini tak ada si jahat yang menculikku, seperti dalarn dongeng para putri.</p>
<p>Saat kuputuskan memulai pengembaraan, ia menyisipkan setumpuk nasehat di ranselku. Usiaku dua puluh lima. Muda dan terbakar rasa ngin tahu. Aku ingin bertualang seperti Tintin. Sementara ia adalah tubuh tua yang mencoba tabah menghadapi hantaman bronchitis, berjuang pulih dari stroke. ’Tak apa. Pergilah. Dengan satu syarat, kalau aku sekarat, kau harus pulang.”</p>
<p>Keberangkatan sekaligus kesepakatan yang membuat seisi rumah cemas. ”Kenapa tidak ke tempat yang dekat saja. Kau perempuan, sendirian kalau ada apa-apa, bagaimana?” keluh ibu.<br />
2</p>
<p>”Si bungsu mau epas dari penderitaan!” ejek kakak-kakakku. Mereka tahu betapa aku bosan menjadi pecundang.</p>
<p>Kukatakan pada Jois, Eropa adalah mimpiku. Kubayangkan mampir di tanah tua Yunani, menjejakkan kaki di arena pertarungan pasukan Sparta dan Troya, kupersiapkan din i menghadapi kelihaian para copet al Milan, juga tergelitik mengintai pelaku graffiti di stasiun-stasiun Metro di Paris atau beraksi menjadi manusia patung di alun-alun kota Amsterdam, mengharap recehan. Tapi lebih dari semua itu, aku ingin tinggal di tanah bangsa Viking, sang penakluk.<br />
*</p>
<p>DI sore yang mendadak dingin, Jois datang lagi dengan rintihannya.</p>
<p>”Cepatlah pulang! Aku ingin mendengar cerita-ceritamu, Nak&#8230;”</p>
<p>Kujelaskan padanya tentang Stockholm yang begitu jauh dari rumah kami. la mungkin tak membayangkan dua puluh jam penerbangan yang menyiksa.</p>
<p>”Jadi kapan?” la merengek. Sepertinya siap menangis. Tunggulah.”</p>
<p>Percakapan terputus. Kenangan menyergap.</p>
<p>Jois bukan sekadar pengasuh. la pelindung. la pendongeng terhebat. la malaikat. la pen i berhati emas. Lidahku jauh lebih fasih meneriakkan ”Joissss!” dalam susah dan senang, daripada memanggil nama ibu atau ayah.</p>
<p>”Anaknya Jois!” begitu crang-orang menjulukiku.</p>
<p>Kehadiranku adalah kejutan yang tak diharapkan. Kakak-kakakku sudah beranjak remaja ketika perut ibu buncit dihuni bayi baru. Aku Si bungsu yang diserahkan kepada Jois, pengasuh lulusan sekolah guru asal Sangir Talaud, pulau kecil di utara Sulawesi. lbu sedang di puncak karir. la tak ingin diganggu mahluk mungil yang hanya bisa menangis, minum susu, ngompol dan rewel.<br />
3</p>
<p>Anaknya Jos. Semua orang bilang begitu. Dan saat kusaksikan ia menangis keras melepasku, sadarlah aku bahwa ia memang menanam diriku dalam segenap kesadarannya, membaktikan dirinya untukku.<br />
*</p>
<p>JOIS berdaster abu-abu. la seperti langit musim dingin di utara. Semuram ubin teras. Tubuh yang tampak payah itu bersikeras memelukku. Perjalanan dari bandara Arlanda ke beranda di kota ini membuatku remuk. Tapi aku tahu, pelukan Jois akan membasuh rasa lelah.</p>
<p>”Sudah kubilang pada Tuhan, sabar&#8230;sabar, anakku belum tiba&#8230;” la nyegir. Tarikan bibirnya tampak mengerikan. Pipi kempotnya membuat hidung dan dahinya tampak lebih menonjol. Wajahnya koyak dirusak stroke. Penyakit menghisap semua nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. la limbung saat menarik seluruh diriku ke dalam dekapannya.</p>
<p>Di ruang tamu, bapak, ibu dan tiga kakakku seperti barisan pemanah Troya menghadang pasukan Sparta yang merapat di pantai. Kutebak pertanyaan yang bakal meluncur dari busur mereka: ”Kamu pulang hanya untuk Jois?”</p>
<p>”Aku sudah berjanji padanya&#8230;” Kupilih membisikkan alasan kedatanganku pada ibu. la orang yang paling tepat menjelaskan kepada yang lainnya. Tiga kakakku, mahluk paling nyinyir di dunia, bukan teman bicara yang balk. Bapak? Ah, ia hanya mengagungkan pendapatnya sendiri.</p>
<p>”Ceritakan padaku tentang malaikat itu. Siapa namanya?” Jois menarikku ke kamar. la duduk terlentang di pembaringan, memangku kotak kayu berisi surat dan kartu pos yang kukirim. Kupikir ia akan memintaku bercerita tentang Eropa. Ternyata ia memilih potongan masa kecilku saat susah payah menghapal tiga belas nama malaikat. Jibril, Mikail, Israfil, Malik, Ridwan, Munkar Nakir Harut, Marut, Ar-Ra’d, lzrail, Rakib, Atb. Kusebut dengan lantang di mesjid, diganjar ustas dengan hadiah Silver Queen..</p>
<p>Kenangan itu terbentang di ranjang tua. Jois tampak riang. la meminta aku<br />
4</p>
<p>memijat betisnya dan merentang nostalgia: ayah dan ibu yang sibuk, tiga kakak perempuan yang puber dan sering keluyuran, dan aku si kecil yang harus diasuhnya.</p>
<p>Aku sebenarnya ingin sekali bercerita tentang Viking, si bengal Pippi, padang rumput, lennbah dan puncak musim panas yang benderang hingga tengah malam. Ingin kukatakan padanya, benih khayalan dari dongeng yang dibacakannya telah tumbuh jadi pohon besar di kepalaku.</p>
<p>Di sini, di kamar ini, kami membangun dunia sendiri. Ruang kecil, resik, beraroma minyak kayu putih. Dan i kelambu, seprei batik bermotif kembang sepatu dan potret di meja kecil &#8211;aku bermukenah dipeluk Jois di hari Lebaran tersembur peristiwa demi peristiwa.</p>
<p>Arus kenangan menggelegak.</p>
<p>Hari pertama belajar mengaji, Jois menuntunku ke mesjid. ”Aku tunggu di luar ya,” katanya.</p>
<p>Mengapa Jois tak masuk ke rumah Tuhan yang berlantai dingin ini? Bukankah pengantar lainnya boleh ikut duduk di dalarn?</p>
<p>”Jois bukan Islam,” kata bapak.</p>
<p>(Tapi kan tidak ada larangan masuk mesjid?)</p>
<p>Jois beribadah di gereja. Bukan di mesjid,” kata ibu</p>
<p>(Tapi ia hanya menemaniku. Apakah ia tidak boleh masuk ke mesjid?)</p>
<p>”Tak usah kau persoalkan ini,” kata bapak lagi.</p>
<p>(Ta pi     </p>
<p>”Kamu kenapa sih, masih kecil sudah cerewet begini?” lbu putus asa menghadapiku.<br />
5</p>
<p>Debur kenangan menderas.</p>
<p>Kuingat, Jois didamprat bapak karena lancang mengajakku ke gereja Pantekosta. Aku penasaran pada ceritanya. la beribadah dengan bernyanyi dan bertepuk tangan.</p>
<p>”Aku yang minta diajak Lagipula, aku hanya mengintip dari luar!” Kubela Jois mati-matian.</p>
<p>La lu ada suara batuk yang menghentak. Ranjang terguncang.</p>
<p>Gelombang kenangan terhenti.</p>
<p>Rasa sakit tergambar jelas di garis wajah, di sorot mata, dan di jemarinya yang gemetar. Perempuan yang membesarkanku ini telah menjelma pohon ringkih yang kepayahan dihantam musim yang keji. Meranggas tak berdaya. Diawali stroke, lalu paru-paru yang bonyok, hash l diagnosa yang mengerikan dan sikap keras kepala menolak dirawat di rumah sakit, membuat seisi rumah berada di puncak keputusasaan.</p>
<p>”Tidurlah Jois. Besok kita cerita lagi.” Kubujuk ia. Kubentangkan selimut di sekujur tubuhnya.</p>
<p>”Tapi kau belum menjawab, siapa nama malaikat maut itu.”</p>
<p>Di mataku membayang gadis kecil dituntun perempuan berkulit legam. Aku dan Jois.</p>
<p>”Siapa nama malaikat itu?”</p>
<p>”Namanya lzrail.” Aku mengalah. Suaraku gernetar.</p>
<p>”Hehehe&#8230; tapi ia malaikat orang Islam saja, ya? Kalau untukku, mungkin bukan lzrail &#8230;” Jois terkekeh.<br />
6</p>
<p>Tak kutanggapi gurauannya. Getar menjalar di seluruh tubuhku. Kutarik selimut hingga ke dagunya Kucium pipinya. Hangat. Ceruk di antara tulang pipi dan tulang rahangnya bergetar. Denyut kehidupan yang lemah.</p>
<p>”Coke lat hadiah menghapal   nama-nama malaikat itu dirampas oleh kakak-kakakmu. Kau menangis berhari-hari. Aku tidak bisa lupa peristiwa itu..</p>
<p>”Sssst&#8230;. Tidurlah, Jois. Besok masih banyak waktu untuk bercerita.”</p>
<p>Kumatikan lampu. Kukecup sekali lagi pipinya.</p>
<p>LIMA kepala beradu. Kupikir, sia-sia saja menambah usulan apa pun. Ayah, ibu dan ketiga kakakku bersitegang. Ruang tengah berubah menjadi medan perang.</p>
<p>”Bapak sudah menelepon rumah duka dan gereja Jois. Kita tinggal siapkan biaya peti mati, penguburan dan lainnya.”</p>
<p>”Kalau mau lebih praktis, Jois harus kita bawa ke rumah sakit besok. Apapun alasannya. Bila meninggal di rumah sakit, jauh lebih efisien. Jenazahnya tidak perlu dibawa ke rumah iagi, Langsung ke rumah duka itu saja.” kata kakak</p>
<p>nomor satu.</p>
<p>”Jangan begitu, ah! Sudah puluhan tahun Jois ikut keluarga kita. Hargai keinginannya. Bila ia meningga! di sini, toh ini rumah dia juga!” Ibu terdengar emosi.</p>
<p>”Tapi Jois bukan Islam, Ma! Coba bayangkan bagaimana repotnya?” sergah kakak nomor dua.</p>
<p>Ibu memukul meja. ”Kalian hanya memikirkan betapa repotnya bila kematian itu betul-betul terjadii Tak pernah ikhlas! Lagi pula, Jois belum tentu akan meninggal besok, lusa atau bahkan minggu ii!”</p>
<p>”Tuh, anaknya kan sudah datang jauh-jauh dari Swedia. lni artinya&#8230;.” Kakak nomor satu menatapku tajam. la tampaknya sengaja menggantung kalimatnya.<br />
7</p>
<p>”Atau kita antar dia pulang ke kampungnya, Ma? Kita tidak tahu apa-apa soal pemakaman sesuai agama Jois. Mungkin persekutuan gerejanya bisa menolong&#8230;” kakak nomor tiga menyemburkan ide yang membuat ruangan meledak.</p>
<p>”Gila! Kalian semua sudah gila!” Ibu memukul meja lebih keras.</p>
<p>Semua terdiam.</p>
<p>Pengasuh setia sebatang kara, yang memutuskan mati di rumah majikan. Sebuah keluarga yang kebingungan dan saling mendamprat. Entah mengapa, aku yang merasa paling bersalah.</p>
<p>Perdebatan mendidih. Aku mundur. Di mulutku, ada pertanyaan yang urung terlontar: Legakah kami bila sekiranya Jois tidak mati di rumah ini?</p>
<p>”Ingat, Ma! Sudah berbulan-bulan kita semua repot merawatnya! Memenuhi permintaannya, mendengar ocehannya,” kakak nomor tiga masih melawan.</p>
<p>”Kau manusia tak berperasaan!   Diam!” lbu telah mencapai puncak kemarahannya.</p>
<p>Perang berkobar sempurna di ruang tengah.<br />
*</p>
<p>TIBA-TIBA aku ingin menangis sekeras-kerasnya.</p>
<p>Kurebahkan diriku di samping Jois. Kamar gelap sempurna.</p>
<p>”Ssst..ceritakan padaku tentang lzrail.” Jois rupanya terbangun.</p>
<p>”Kenapa mengulang itu terus? Tidurlah, Jois.”</p>
<p>la mengiris kegelapan dengan tangis.<br />
8</p>
<p>Tapi mungkin yang mendatangiku bukan lzrail ya . ”</p>
<p>”Ssst&#8230; sudahlah Jois&#8230;”</p>
<p>”Entah mengapa peristiwa itu yang terus teringat belakangan      mi. Tentang kau yang berdiri di atas meja menghapal nama-nama malaikat..</p>
<p>”Tidurlah, Jois..”</p>
<p>Jois terbatuk. Aku mengusap dadanya.</p>
<p>”Peluk aku, Nak. Aku takut     </p>
<p>Tangisku tumpah bersama tangisnya Air mataku dan airmatanya bermuara di dadanya. Di ceruk tipis dengan tulang rusuk menonjol itulah seluruh tangisan masa kecil dan remajaku dulunya mengalir.</p>
<p>Di dalam gelap, bulir dari mataku mengiringi kenangan yang memancar terang di langit-langit kamar. Kuingat rasa girang saat mengintip gereja Jois yang semarak dengan suara tepukan dan musik. Aku juga mengenang bangku kayu dan pohon akasia di pekarangan mesjid, saksi kesetiaan pengasuh itu menungguiku belajar mengaji. Di bulan Ramadan, aku adalah pahlawan cilik yang menyisakan menu sahur untuk sarapannya. Dan di kamar inilah, setiap Natal ia memberiku sekotak cokelat berpita merah.</p>
<p>Dan i seluruh sudut kamar tersembur potongan-potongan peristiwa yang kulalui bersamanya. Semua benderang. Dan sekarang, saat Jois mendapatkan firasat kematiannya, aku hanya bisa memeluknya sembari menangisi perang yang berlangsung di luar sana.</p>
<p>”Namanya lzrail, Jois. Malaikat pencabut nyawa. Tapi mungkin kau takkan melihatnya. Barangkali saja Tuhan yang langsung datang merengkuhmu&#8230;”</p>
<p>”Peluk aku, Nak&#8230;.” Jois merintih.<br />
1<br />
1<br />
9</p>
<p>Tubuhku menggigil. Kueratkan pelukanku.</p>
<p>Suara pertengkaran di ruang tengah merayap melalui celah pintu dan lubang angin.</p>
<p>”Peluk aku&#8230;”</p>
<p>Kami bertangisan. Di dalam gelap kurasakan degup di dadanya melemah. Pipinya dingin. Kian mendingin.(*)</p>
<p>Paris, Desember 2008 &#8211; Jakarta, Februari 2009.</p>
<p>Catatan kaki:</p>
<p>1 Sem la, roti manis berisi pasta almond dan krim yang lazim dibuat di Swedia untuk menandai awal musim bunga.</p>
<p>Pippi Si Kaus Kaki Panjang, dongeng pengantar tidur Swedia tentang gadis bengal yang besar di rombongan sirkus. Cerita ini pertama kali dibukukan oleh penulis Astrid Lindgren dan terkenal di seluruh dunia.<br />
10</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/akademis/tugas/jois-dan-sang-malaikat-901/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurnal Kritik Sastra dan Budaya</title>
		<link>http://dpm.web.id/akademis/tugas/jurnal-kritik-sastra-dan-budaya-899</link>
		<comments>http://dpm.web.id/akademis/tugas/jurnal-kritik-sastra-dan-budaya-899#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 08:29:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Assignments]]></category>
		<category><![CDATA[kritik sastra]]></category>
		<category><![CDATA[semester 5]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[Student Journal
English literature and Culture criticism
Dimas Prasetyo Muharam
Class of 2011
0706295475

Monday, August 31st, 2009
In this first meeting, we discuss about the relation between culture and literature. Overall, we can draw a conclusion that literature is a product of culture. From a literature, there must be a culture from a certain society. 
For example in the novel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/akademis/tugas/jurnal-kritik-sastra-dan-budaya-899"></a></div><p>Student Journal<br />
English literature and Culture criticism<br />
Dimas Prasetyo Muharam<br />
Class of 2011<br />
0706295475<br />
<span id="more-899"></span></p>
<p>Monday, August 31st, 2009</p>
<p>In this first meeting, we discuss about the relation between culture and literature. Overall, we can draw a conclusion that literature is a product of culture. From a literature, there must be a culture from a certain society. </p>
<p>For example in the novel The Kite Runner which is written by Khalid Husaini. The author background itself has important rule in influencing the story. Anyway, in this story, the author told us about the situation in Afganistan before the Sovyet invation., The social relationship between two etnicks in Afganistan, which one the master and servant, and so on. </p>
<p>From this story also, we get new information about the kite runner tradition which is done by a boy. Once a year, there is a kite competition. Every boy all around the country flies kite and compete with the other. The winner resulted by the one who flies the kite longest. Moreover, this tradition not only just a tradtition, it also has an important effect in social status. A boy who won the competition would get higher social rank. Therefore, the winning of this event is so important for Afgan boys.</p>
<p>In the other hand, we can also see a cultural fenomenon from literature point of view. For example in the case of Antasari Azhar as the chief of Anticoruption committee (KPK). From literature perspective, we can see Antasari Azhar as a Tragic Hero. Before the case, KPK was verystrong by catching many coruptors and sent them to the jail. Later on, Antasari Azhar was cought for a very silly case, a triangle love. He is accused for killing Nazarudin Zulkarnaen, the director of PT Rajawali Banjaran. About the motif, media tells us the reason Antasari Azhar killed Nazarudin Zulkarnaen because he felt in love with Nazarudin’s fourth wife, Rani Juliani.</p>
<p>It sounds like a foolish mistake that is made by Antasari Azhar. In his pocition, he can reach everything. However, in the fact, he felt in love with Rani who is just a Caddy girl. Antasari chose his own way, and the destiny brought him into the fallen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/akademis/tugas/jurnal-kritik-sastra-dan-budaya-899/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Implikasi Power Relation terhadap pembentukan karakter individu dalam multikulturalisme Asrama</title>
		<link>http://dpm.web.id/akademis/tugas/implikasi-power-relation-terhadap-pembentukan-karakter-individu-dalam-multikulturalisme-asrama-897</link>
		<comments>http://dpm.web.id/akademis/tugas/implikasi-power-relation-terhadap-pembentukan-karakter-individu-dalam-multikulturalisme-asrama-897#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 08:14:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Assignments]]></category>
		<category><![CDATA[kritik sastra]]></category>
		<category><![CDATA[multikulturalisme]]></category>
		<category><![CDATA[semester 5]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=897</guid>
		<description><![CDATA[Universitas Indonesia sebagai institusi kebanggaan bangsa, sudah barang tentu menjadi prioritas bagi para pelajar di seluruh nusantara. Para mahasiswa yang belajar di dalamnya tidak hanya berasal dari sekitar kota Depok saja, namun tercatat pula ada mahasiswa yang berasal baik dari ujung barat atau timur Indonesia. Tak elak lagi, asrama UI sebagai tempat tinggal sementara mahasiswa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/akademis/tugas/implikasi-power-relation-terhadap-pembentukan-karakter-individu-dalam-multikulturalisme-asrama-897"></a></div><p>Universitas Indonesia sebagai institusi kebanggaan bangsa, sudah barang tentu menjadi prioritas bagi para pelajar di seluruh nusantara. Para mahasiswa yang belajar di dalamnya tidak hanya berasal dari sekitar kota Depok saja, namun tercatat pula ada mahasiswa yang berasal baik dari ujung barat atau timur Indonesia. Tak elak lagi, asrama UI sebagai tempat tinggal sementara mahasiswa baru UI menjadi saksi sejuta keberagaman budaya Indonesia. Mereka dating dengan kebudayaan dan kebiasaan masing-masing. Salah satu hal yang amat jelas mengidentifikasi asal daerah mereka adalah bahasa. Bahasa daerah yang menjadi bahasa ibu mereka acap kali digunakan saat berkomunikasi baik ke mahasiswa dari satu daerah atau bukan. Bahkan ketika mereka berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia pun, masih kentara aksen asal daerah mereka. Namun ada pula kecenderungan dari kebanyakan mahasiswa baru yang berasal dari luar daerah Depok dan sekitarnya untuk mengadopsi common culture di asrama. Seperti yang biasanya mereka menggunakan kosakata seperti “aku” dan “kamu”, tak lama setelah dating di asrama beralihmenggunakan kata-kata “gue” dan “lo” meski dengan dialeg yang kental. Dari hal ini dapat kita identifikasi bahwa ada pengaruh power relation dalam pembentukan perilaku seseorang dalam masyarakat yang multicultural.<br />
<span id="more-897"></span></p>
<p>Menurut teori identitas sosial, manusia cenderung akan mengimitasi identitas lain yang dianggapnya lebih tinggi. Ini biasanya terjadi pada bangsa-bangsa terjajah yang meletakan budaya penjajahnya lebih tinggi. Seperti contoh adalah anggapan bangsa timur terjajah mengenai konsep modern. Segala sesuatu yang modern diidentifikasikan berasal dari barat atau lebih tepatnya Eropa dan Amerika. Di bawa ke ruang lingkup multikulturalisme, prinsip serupa pun berlaku. Ketika para mahasiswa baru datan di Asrama UI, mereka merasa kebudayaan mereka lebih imperior dari budaya yang berlaku umum. Budaya metropolitan kota Jakarta dan sekitarnya dianggap lebih tinggi daripada budaya yang mereka bawa karena takut dengan labeling “kampungan” atau yang sejenis.</p>
<p>Pembentukan konsep power relation ini pun turut dibangun oleh mahasiswa baru yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Mereka sering menganggap aneh atau “kampungan” mahasiswa lain yang berkomunikasi dengan kata “aku” dan “kamu”. Sering ada tertawaan meski tidak secara langsung menghina mahasiswa baru tersebut. Sehingga lama-kelamaan, mereka merasa kata “gue” dan “lo” dipilih untuk menyamakan derajat budaya mereka dengan orang kota.</p>
<p>Identifikasi budaya baru ini membuat mahasiswa baru luar daerah merasa lebih percaya diri. Meski meeka telah mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar sebelumnya, tapi kosakata dalam bahasa gaul acap kali digunakan untuk berkomunikasi. Jadi terlihat bahwa bahasa gaul “gue” dan “lo” itu, bukan semata digunakan sebagai bahasa penghubung. Kita telah memiliki bahasa Indonesia yang mampu diujarkan sempurna oleh semua mahasiswa baru itu. Namun mereka skelai lagi lebih memilih bahasa gaul untuk identitas yang sederajat.</p>
<p>Di lain sisi, mahasiswa baru yang berasal dari luar daerah ini tetap tidak ingin kehilangan identitas asli mereka. Mereka beserta mahasiswa sedaerah membentuk berbagai paguyuban daerah seperti contoh paguyuban minang, banten, Palembang, dan lain-lain. Di dalam paguyuban tersebut, mereka bisa menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dengan perasaan yang sederajat. Di sini terlihat lagi bagaimana power relation itu berperan. Ketika mereka bersama dengan mahasiswa yang sedaerah, perasaan imperioritas itu hilang dan merasa sederajat dengan yang lain. Mereka berani untuk menggunakan bahasa daerahnya. Sedangkan ketika berinteraksi dengan mahasiswa lain, mereka cenderung akan menggunakan bahasa gaul untuk mengidentifikasi derajat yang lebih tinggi.</p>
<p>Perlu diperhatikan pula bahwa di lingkungan multikultur asarama UI, sesama pelaku budaya daerah tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Tidak ada yang dengan sengaja untuk menunjukan bahwa bahasa daerahnya lebih tinggi dari daerah lain lantas berbicara seenaknya dengan bahasa daerahnya kepada mahasiswa lain yang tidak mengerti sama sekali. Komposisi posisi dalam kaitannya dengan power relation bahwa bahasa gaul atau kota memegang pengaruh yang paling besar. Sedangkan bahasa daerah berada di derajat yang sama dengan bahasa daerah lain di bawah bahasa gaul/kota. Namun para mahasisba daerah ini tetap melakukan protes terhadap hegemoni bahasa gaul/kota ini dengan sesekali menyisipkan bahasa daerahnya atau dengan bahasa gaul tapi aksen yang amat kental.</p>
<p>Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kehidupan multikulturalisme di asrama UI terdapat power relation yang amat berperan. Kekuatan yang mengatur posisi dalam interaksi sosial sesame mahasiswa. Namun para mahasiswa daerahini tetap memberikan aksentuasi sebagai bentuk bahwa tidak sepenuhnya mereka menerima hegemoni tersebut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/akademis/tugas/implikasi-power-relation-terhadap-pembentukan-karakter-individu-dalam-multikulturalisme-asrama-897/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reflective Essay The great backslash in 1979</title>
		<link>http://dpm.web.id/akademis/tugas/reflective-essay-the-great-backslash-in-1979-891</link>
		<comments>http://dpm.web.id/akademis/tugas/reflective-essay-the-great-backslash-in-1979-891#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 01:42:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Assignments]]></category>
		<category><![CDATA[critical reading]]></category>
		<category><![CDATA[reflective essay]]></category>
		<category><![CDATA[semester 5]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=891</guid>
		<description><![CDATA[Caryl, Christian. “1979: The Great Backlash”. Retrieved October, 25th 2009 from http://www.foreignpolicy.com/articles/2009/06/18/the_great_backlash_1979
Pauker, Guy J. “Indonesia 1979: the record of three decades”. Retrieved November, 8th 2009 from http://www.jstor.org
All the great things in the world must have certain reasons. The fall of Soviet Union, the capitalization in China, and the shifting power from the west to the [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/akademis/tugas/reflective-essay-the-great-backslash-in-1979-891"></a></div><p>Caryl, Christian. “1979: The Great Backlash”. Retrieved October, 25th 2009 from http://www.foreignpolicy.com/articles/2009/06/18/the_great_backlash_1979<br />
Pauker, Guy J. “Indonesia 1979: the record of three decades”. Retrieved November, 8th 2009 from http://www.jstor.org</p>
<p>All the great things in the world must have certain reasons. The fall of Soviet Union, the capitalization in China, and the shifting power from the west to the east, don’t they have any trigger? Christian Caryl, a contributing editor of Newsweek, says in his article titled “1979: The Great Backlash” that the most important moment that effect the world condition nowadays is in 1979. This is year when Ayatollah Khomeini seized the Syah Iran to bring the Islamic Revolution, and built the Islamic Republic of Iran. In this year also Den Xiaoping and Margaret Thatcher reform the economic system to be more liberal. The other happening that also brought the great effect is the pilgrim of Pope John Paul II to Poland that initiated the Central Europe countries struggle against the communism system, and at the end, demolished the Soviet Union in 1989. However, what happen in Indonesia at that very important year?<br />
<span id="more-891"></span></p>
<p>Guy J Pauker, a Senior Staff member in the Social Science Department at the Rand Corporation, Santa Monica, California, writes in his article titled “Indonesia 1979: the record of three decades” that 1979 is the best year for Indonesia since the national independence at August 17th,1945. In 1979, Indonesia went to the steady economic and political condition. The late President Soeharto govern Indonesia for the third times, and with the theory which called “trilogy Pembangunan”, government tried to distribute the result of development evenly to all around Indonesia while still keep the political stability condition.</p>
<p>The better economic condition was also influenced from the Iran Islamic Revolution at that time. As the OPEC member, Indonesia had the certain role in increasing the oil price to 38 USD a barrel due to the hampered oil production from Iran. The increasing really effect the Indonesia national income. Government gained more money, therefore they can used it to increase the people prosperity. Also, the politization of religion in Iran influence the awakening of muslim militans who wanted to apply the same Islamic revolution in Indonesia. This movement which was really pressured in new order era, turns to the radical muslim in recent years.</p>
<p>Base on the stability in economic and political sector of Indonesia in 1979, it sets off the great movement called “reformasi” that resulted the down fall of late President Soeharto. The stability which was controlled by government conveys the exclusive bureaucracy hegemony that result the corruption and nepotism in government. That’s why, in 1998, the people’s power occurred as the reaction of that dilapidated system which was built systematically since 1979.</p>
<p>To sum it up, as the part of the world, Indonesia will always get the effect of global happening. The effect perhaps not directly influences Indonesia, it can be something that occur many years later.</p>
<p><a href="http://download.kartunet.com/uploads/fb0b63e4e4.zip"> Download the article &#8220;Indonesia 1979: the record of three decades&#8221; </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/akademis/tugas/reflective-essay-the-great-backslash-in-1979-891/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Simbolisasi Kehidupan Multikulturalisme dalam Serial Avatar the Legend of Aang</title>
		<link>http://dpm.web.id/akademis/test/simbolisasi-kehidupan-multikulturalisme-dalam-serial-avatar-the-legend-of-aang-876</link>
		<comments>http://dpm.web.id/akademis/test/simbolisasi-kehidupan-multikulturalisme-dalam-serial-avatar-the-legend-of-aang-876#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 12:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dimas Prasetyo</dc:creator>
				<category><![CDATA[exams]]></category>
		<category><![CDATA[final test]]></category>
		<category><![CDATA[kritik sastra]]></category>
		<category><![CDATA[semester 5]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dpm.web.id/?p=876</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan
Tak ada sesuatu yang tercipta di dunia ini dan tak memiliki makna. Tiap partikel dalam alam semesta ini, telah tercipta untuk suatu tujuan. Mereka saling jalin-menjalin membentuk suatu kompilasi makna. Bahkan sebuah titik yang dipercikan oleh kuas pelukis, memiliki makna besar bagi keseluruhan hasil goresannya. Sama halnya ketika kita menikmati sebuah karya baik itu puisi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left" style="float:none;padding:0px 5px 5px 0px;"><a name="fb_share" type="button" share_url="http://dpm.web.id/akademis/test/simbolisasi-kehidupan-multikulturalisme-dalam-serial-avatar-the-legend-of-aang-876"></a></div><p>Pendahuluan<br />
Tak ada sesuatu yang tercipta di dunia ini dan tak memiliki makna. Tiap partikel dalam alam semesta ini, telah tercipta untuk suatu tujuan. Mereka saling jalin-menjalin membentuk suatu kompilasi makna. Bahkan sebuah titik yang dipercikan oleh kuas pelukis, memiliki makna besar bagi keseluruhan hasil goresannya. Sama halnya ketika kita menikmati sebuah karya baik itu puisi, cerpen, musik, atau film. Tiap detail yang disuguhkan oleh karya tersebut sudah barang tentu memiliki suatu symbol sebagai petanda sebuah makna. Layaknya dalam film, tiap tokoh atau peristiwa merupakan petanda akan sesuatu lebih dalam. Tidak hanya film dengan pemeran manusia, kartun atau animasi pun kaya akan simbol yang dikreasi bukan tanpa tujuan oleh pembuatnya. Dalam tulisan ini, kita akan mencoba menginterpretasikan symbol-simbol  kehidupan multikulturalisme dan konsep relasi kuasa yang terdapat pada serial animasi Avatar the Legend of Aang.<br />
<span id="more-876"></span></p>
<p>Teori yang akan digunakan sebagai pisau analisis adalah teori konotasi dari Roland Barthes (1915 – 1980). Menurut Barthes, ilmu semiotika memiliki dua tingkat pertandaan, yakni makna denotasi dan konotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas, menghasilkan makna eksplisit, langsung, dan pasti. Konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang tidak eksplisit, tidak langsung, dan tidak pasti (Yusita Kusumarini,2006). Lebih jauh lagi, tulisan ini pula akan menggunakan konsep Barthes tentang “mitos” dalam kaitannya sebagai petanda masyarakat. Sebuah tanda akan menjadi signifier sebagai makna denotasi. Dari makna denotasi ini, akan menunjuk pada sebuah signified yang merupakan makna konotasi. Terakhir dari makna konotasi ini, akan menjadi signifier bagi signified baru yang secara denotative akan diakui sebagai mitos dan berlaku umum di dalam masyarakat.</p>
<p>Tujuan dari tulisan ini adalah untuk menelaah simbol-simbol yang terdapat dalam film serial Avatar the Legend of Aang yang diproduksi oleh Niclodeon, Amerika Serikat. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan mengambil korpus pada sebuah film. Di akhir tulisan ini, diharapkan kita dapat menjawab sebuah pertanyaan bagaimana simbol-simbol dalam serial Avatar the Legend of Aang menunjuk pada konsep hidup multikulturalisme dan relasi kuasa elemen masyarakat penyusun.</p>
<p>Sinopsis isi cerita<br />
Pada zaman dahulu manusia dapat mengendalikan elemen-elemen dasar yaitu Air, Api, Udara, dan Bumi. Kelompok manusia itu pun membentuk sendiri negaranya, berdasarkan kemampuan pengendalian mereka. Keempat negara itu hidup dengan damai, hingga akhirnya negara api memutuskan untuk menyerang negara lainnya dan merusak keseimbangan dunia. Untuk itulah diperlukan seorang avatar, penguasa 4 elemen, untuk mencegah negara api melebarkan kejahatannya dan menguasai dunia.</p>
<p>Plot utama<br />
1. Ditemukannya Aang sang Avatar, Appa si Bison Terbang, dan Momo oleh Katara dan Sakka, keduanya dari suku pengendali air.<br />
2. Katara dan kakaknya, Sakka, memutuskan untuk membantu petualangan Aang dalam menyelamatkan dunia.<br />
3. Karena Aang baru menguasai satu pengendalian, diperlukanlah guru pengendali Air, tanah, dan api agar ia bisa menguasai 4 elemen.<br />
4. Katara memutuskan untuk jadi guru pengendalian air bagi Aang.<br />
5. Dalam perjalanannya, Avatar selalu diburu oleh Zukko, putra mahkota negara api.<br />
6. Avatar bertemu Tha, seorang putri pengendali tanah yang buta.<br />
7. Setelah berhasil menguasai pengendalian tanah dan air, Avatar dan teman-temannya memutuskan untuk menginvasi negara api pada saat gerhana matahari, karena pada saat itu pengendalian api tidak bisa digunakan.<br />
8. Zukko menyesal dan memutuskan untuk bergabung dengan kelompok Avatar. Kebetulan saat itu Aang sedang memerlukan guru pengendalian Api. Setelah proses yang cukup rumit, akhirnya Aang dan kawan-kawan mau memaafkan Zukko dan menerimanya.<br />
9. Namun, pengendalian api Zukko lenyap seiring dengan lenyapnya kebenciannya pada Avatar. Akhirnya Aang dan Zukko harus mencari sumber asli pengendalian api, yaitu naga.<br />
10. Setelah berhasil menguasai pengendalian api dari naga, Zukko memutuskan untuk membantu Sakka membebaskan Suki (Kekasih Sakka) dan ayah Sakka. Setelah itu ia membantu Katara mencari pembunuh ibunya.<br />
11. Akhirnya, setelah kekuatan mereka cukup, mereka memutuskan sekali lagi untuk menyerang Raja Api, sebelum tiba meteor raksasa yang bisa memberi kekuatan luar biasa bagi Raja Api.<br />
12. Katara dan Zukko harus bertarung melawan Azula, yang ternyata telah mengendalikan petir dengan sempurna.<br />
13. Aang harus melawan Raja Api sebelum meteor mencapai bumi. Setelah bersusah payah, Aang berhasil menang. Ia pun melenyapkan kekuatan Sang Raja Api.<br />
14. Zukko dan Katara juga berhasil menang. Zukko menjadi Raja Api yang baru, sedangkan Katara hidup bahagia dengan Aang. Cerita ini berakhir dengan happy ending, tanpa seorang pun tokoh protagonis yang terbunuh .</p>
<p>Interpretasi Simbol</p>
<p>a.	Bangsa nomad pengendali udara.<br />
Ini adalah asal bangsa dari tokoh utama cerita ini, Aang. Dalam siklus hidup Avatar, ia akan selalu berpindah dari satu ras ke ras bangsa lainnya. Setelah ia meninggal yang terlahir dari ras tertentu, kemudian ia akan reinkanasi dan terlahir dari ras bangsa lainnya. Jika melihat makna denotasi bangsa pengendali udara, mereka adalah bangsa yang bebas tanpa terikat oleh suatu tempat atau system politik. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Menjelajah satu negeri ke negeri lainnya. Lebih jauh, bangsa pengendali udara ini memiliki kesan cinta damai dan tidak suka berperang. Mereka menjadi penengah di antara bangsa-bangsa yang ada saat itu. Oleh karena itu, jika ingin dikonotasikan, mereka ini layaknya kelompok yang bertugas menjaga perdamaian.</p>
<p>b.	Suku Air.<br />
Suku air adalah bangsa asal Sakka dan Katara. Mereka ini tinggal di daerah sumber air yaitu kutub utara dan selatan. Hidup mereka menetap meski tak memiliki system politik yang teramat jelas. Karakteristik dari suku air ini adalah kuat pendirian dan gigih dalam berjuang. Ini terlihat di serial Avatar yang memperlihatkan suku air sebagai rival utama dari negeri api. Suku air ini pula merupakan simbol dari ketetapan hati. Ia bertindah seperti air, terus menerjang ke suatu arah, meski untuk menerobosnya perlu waktu yang amat lama. Mereka ini aktif, namun tetap cinta damai. Mereka akan melawan ketika diserang. Layaknya air yang akan menimbulkan kemercik ketika dilempar sebuah batu ke dalamnya. Ada reaksi, tidak hanya diam. Wajar jika dalam serial ini, musuh utama negeri api disimbolisasikan dengan elemen air.</p>
<p>c.	Kerajaan bumi.<br />
Kerajaan bumi adalah tempat asal salah satu teman Aang, yakni Tha. Dalam serial ini, Kerajaan Bumi merupakan satu-satunya negeri yang belum diporak-porandakan oleh negeri api. Mereka masih memiliki pasukan dan negara yang kuat. Mereka ini telah memiliki system politik yang jelas. Kemampuan untuk berorganisasi cukup baik dan telah memiliki tujuan praktis. Dalam serial ini, Kerajaan Bumi dapat diinterpretasikan sebagai suatu entitas yang pasif. Mereka tidak ingin terlibat secara langsung dalam perang dengan Negeri Api. Mereka hanya menunggu dan tak ingin berinisiatif untuk menyerang terlebih dahulu Negeri Api. Ini serupa dengan sifat dasar tanah yang pasif dan tak bereaksi apa-apa ketika diinjak.</p>
<p>d.	Negeri Api.<br />
Negeri Api adalah tempat asal dari pangeran Zukko. Mereka memiliki system politik yang kuat serta sokongan militer tangguh. Tentara mereka melakukan ekspansi kemana-mana untuk menaklukan negeri-negeri di sekitarnya. Jika diinterpretasikan, Negeri Api seperti sebuah entitas perusak dan penghancur. Ia adalah pihak pertama yang mengobarkan api peperangan dengan negeri-negeri lainnya. Dimulai dengan menumpas habis seluruh bangsa pengendali udara karena ingin memutus siklus hidup Avatar. Elemen api itu sendiri memiliki sebuah konotasi yang selalu bersemangat dan ingin menang sendiri. Ia ingin menjadi pemimpin dunia di atas negeri-negeri yang lain. Sifat mereka aktif dan akan melalap apa saja yang berada di dekatnya.</p>
<p>e.	Avatar Aang.<br />
Avatar Aang adalah tokoh utama dari serial ini. Ia memeiliki kemampuan untuk menguasai pengendalian empat elemen sekaligus. Di sini ia berperan sebagai penyeimbang di antara empat bangsa yang ada. Aang sendiri memiliki sifat khas bangsa pengendali udara. Lucu, suka bercanda, dan sulit untuk serius. Ia senang terbang kesana kemari, tak mau diam. Sifat Aang ini merepresentasikan kharekteristik asal bangsanya. Namun setelah diinterpretasikan, Aang ini menjadi simbol sikap meragu dan ketergantungan. Ini sikap yang sangat manusiawi. Meski ia seorang avatar yang memiliki kemampuan “ekstra”, ia tak dapat hidup sendiri dan tetap memerlukan bantuan orang lain, terutama teman-teman yang menyertai perjalanannya. Sifat dasarnya sebagai udara yang tidak tetap dan selalu berubah-buah, merupakan simbol jelas sikap peragu ini. Ia butuh teman-teman dari element lain untuk mendorong dan mengarahkan jalannya.</p>
<p>f.	Sakka dan Katara.<br />
Sakka dan Katara adalah dua orang bersaudara dari suku air. Mereka inilah yang pertama kali menemukan dan tak sengaja membebaskan Avatar Aang dari bola gelembung es di kutub selatan. Sakka adalah seorang prajurit yang konyol namun selalu memiliki ide brilian. Sedangkan Katara adalah seorang pengendali air yang masih butuh banyak belajar. Katara bersedia menemani Aang untuk mencari guru pengendalian air di kutub utara, sedangkan Sakka pada awalnya hanya ingin mendampingi adiknya. Pertanyaanya, mengapa tokoh Avatar Aang membutuhkan mereka berdua sebagai teman perjalanan? Dalam shio China, elemen air merupakan simbol dari sikap orang yang mampu mendorong orang lain untuk mewujudkan sesuatu. Ia terus mendorong bagai air yang tak kenal lelah menerjang batu di sungai. Dalam kelompok, baik Sakka dan Katara adalah inisiator dan pendorong motivasi bagi Avatar Aang. Mereka dihadirkan oleh pengarang cerita untuk memenuhi fungsi ini. Tanpa Sakka dan Katara, mungkin Avatar Aang hanya akan berhenti di tengah jalan.</p>
<p>F. Tha.<br />
Tha adalah teman berikutnya yang ditemui dan ikut dengan perjalanan Avatar Aang ketika singgah di Kerajaan Bumi. Ia adalah seorang putrid Kerajaan Bumi dan memiliki kemampuan luar biasa dalam pengendalian tanah. Sikapnya serius dan tenang, layaknya tanah yang tak bergeming. Simbolisasi fungsi Tha dalam kelompok perjalanan Avatar Aang adalah sebagai penegas arah tujuan kelompok. Dalam kepercayaan shio China pula, seseorang yang dipengaruhi oleh unsur tanah merupakan mereka yang bertindak secara praktis. Mereka memiliki kemampuan dalam merealisasikan suatu tujuan yang telah jelas. Terlihat dalam serial ini, Tha turut mengajarkan pengendalian tanah kepada Avatar Aang. Dalam teknik pengajarannya, ia keras dan tidak mau basa-basi. Langsung kepada hal-hal praktis, bukan teori. Sehingga demikian, Tha memiliki makna simbolisasi tanah yang lebih memperjelas tujuan dari Avatar Aang.</p>
<p>g.	Pangeran Zukko.<br />
Zukko adalah anak lelaki dari Raja Api Ozai. Karena suatu hari ia membangkang terhadap ayahnya, ia diusir dan diberi tugas untuk menangkap Avatar. Sebelum ia berhasil menangkap Avatar, maka ia tidak diizinkan menginjakkan kakinya lagi di Negeri Api. Ia merupakan anggota terakhir yang bergabung dalam kelompok perjalanan Avatar Aang. Pertanyaannya lagi, mengapa Zukko oleh pengarangnya harus dimasukan di dalam kelompok saat mendekati penghujung cerita? Selain karena Zukko bertugas untuk mengajarkan pengendalian api kepada Avatar Aang, ia pula memiliki unsur sifat seorang api yang dibutuhkan dalam kelompok. Menurut shio China, seorang dengan elemen api adalah mereka yang ambisius dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Ia membeirkan peranan dalam mengkerucutkan tujuan kelompok Avatar Aang.  Ketika ingin mendekati tujuan akhir, maka diperlukan motivasi dan kemauan yang lebih kuat dan berani untuk sampai padanya. Dalam hal inilah, Zukko sebagai unsur api melengkapi perjalanan ini. Sikapnya pula yang ambisius, turut mempercepat perjalanan. Tanpa Zukko yang berani dan berkamuan keras sebagai simbolisasi sifat Api, kemungkinan besar kelompok Avatar Aang hanya akan mengundur-undur perjalanan untuk mencapai akhir.</p>
<p>Multikulturalisme, Relasi kuasa, dan Mitos<br />
Dalam serial ini, jelas terlihat contoh kehidupan multikulturalisme. Di sana terdapat empat bangsa yang dahulu mampu hidup berdampingan. Namun semua itu berubah ketika Negeri Api memulai peperangan. Ini pula yang terjadi di realitas sosial. Syarat untuk hidup dalam kesadaran multikulturalisme adalah sikap saling menghargai. Ketika salah satu elemen penyusun multikulturalisme itu ada yang tidak sepaham lagi, maka dapat dipastikan multikulturalisme itu akan terganggu. Tak ada lagi kompromi untuk menerima perbedaan yang ada. Contoh nyata negara multikulturalisme adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Republik ini disusun oleh berbagai macam suku. Tiap suku saling melengkapi slot-slot yang tersedia untuk membangun sebuah kata NKRI. Mereka harus dapat meredam dan tidak mengungkit perbedaan yang ada. Perbedaan boleh ditunjukan, tapi tidakuntuk dipermasalahkan. Inilah inti dari identitas multikulturalisme Indonesia.</p>
<p>Dalam hubungan interelasi antar negeri di serial ini turut dipengaruhi oleh konsep relasi kuasa atau power relation. Tiap negeri memiliki simbol akan penanda tertentu:<br />
-	Bangsa nomad pengendali udara memiliki sikap selalu berpindah-pindah. Mereka tidak memiliki tempat yang tetap, sehingga tak memiliki kuasa atas negeri lain.<br />
-	Suku air keadaannya agak lebih baik. Ia menempati suatu daerah secara permanen. Struktur kemasyarakatan sudah mulai diatur, sehingga mereka cukup memiliki kekuatan untuk melawan jika ada serangan.<br />
-	Kerajaan bumi merupakan suatu entitas yang kuat. Seperti tanah, ia memiliki kesan pasif dan kokoh. Tidak pernah punya hasrat untuk menindas atau menguasai negeri lain, meski mereka cukup memiliki kekuatan yang mumpuni.<br />
-	Negeri Api punya hasrat kepemimpinan dan ambisi yang tinggi. Ia menyimbolkan sifat api yang selau ingin berada di depan. Memakakan ie atau keinginannya kepada orang lain. Oleh karena itu, ia merasa tidak puas hanya dengan berada setaraf dengan negeri lainnya. Mereka harus jadi nomor satu dan menguasai negeri lain di bawah kendalinya.</p>
<p>Simbolisasi yang digunakan dalam serial Avatar ini pula menunjukan bahwa Api merupakan simbol dari kekuasaan. Ia memiliki posisi yang lebih tinggi dalam konsep power relation. Sedangkan Kerajaan Bumi yang memiliki konotasi pasif, bukan tanpa alasan disimbolisasi dalam serial ini. Mereka hanya diam meski tahu Negeri Api akan menyerang mereka. Tak ingin terlebih dulu menyerang negeri api, hanya menunggu dan bertahan. Dalam konsep power relation, posisi mereka adalah subordinat. Meski posisi mereka lebih rendah, mereka tak ingin mengimitasi nilai yang dimiliki oleh negeri api. Serupa dengan suku air, mereka ini ditindas dan tak banyak berarti dalam melawan kekuatan negeri api. Keteguhan hati mereka masih tak cukup dalam menghadapi kekuatan militer dari negeri api. Dengan kata lain, api di sini secara kuat disimbolkan menempati power relation yang lebih kuat dari tanah, air , atau udara.</p>
<p>Lebih jauh, konotasi yang terbentuk dari simbolisasi udara, air, tanah, dan api lambat laun akan menjadi makna denotasi di masyarakat. Makna denotasi inilah yang kemudian akan menjadi mitos yang berlaku umum. Ketika mendengar kata api misalnya, kata itu akan memiliki kesan ambisius dan penghancur. Jika dikaitkan dengan konsep peperangan, maka api akan memiliki konotasi sebagai negeri yang jahat dan ingin menguasai negeri lain hanya untuk sebuah kebanggan. Hal ini berlaku umum dan telah menjadi sebuah mitos dalam masyarakat. Sama halnya dengan Amerika Serikat akhir-akhir ini. Negara superpower ini telah memiliki mitos di masyarakat sebagai negara yang suka mencampuri urusan negara lain dan berperang. Perang Vietnam, Iraq, dan Afganistan semakin memperkuat mitos ini di masyarakat dunia. Dengan kata lain, negeri api di serial Avatar ini, secara tidak langsung dapat pula diinterpretasikan sebagai Amerika Serikat. Situasi dunia yang sebelumnya relatif tenang, setelah ada tragedi 11 September, tiba-tiba menjadi panas kembali setelah era perang dingin.</p>
<p>Penutup<br />
Akan banyak makna dan interpretasi yang terungkap jika kita menggunakan semiotika dalam menganalisis sesuatu. Makna yang terkandung itu, tidak hanya yang terlihat di permukaan, namun akan lebih dalam lagi masuk ke dalam. Seperti kajian semiotika yang terdapat dalam serial Avatar the Legend of Aang. Tiap simbol yang direpresentasikan dengan udara, air, tanah, dan api, memiliki makna konotasi dan mitos yang lebih dalam. Semua simbol itu akan saling berinteraksi dan menghadirkan fenomena kehidupan multikulturalisme yang tak dapat dilepaskan dari konsep relasi kuasa.</p>
<p>Daftar Acuan<br />
http://dthinkerz.blogspot.com/2009/04/makna-elemen-pada-shio.html Diunduh pada tanggal 21 Desember 2009 jam 19:30 WIB<br />
http://sultanadamanik.blogspot.com/2009/12/teori-konotasi-menurut-roland-barthez.html Diunduh pada tanggal 21 Desember 2009, jam 20:00 WIB</p>
<p><a href='http://dpm.web.id/wp-content/uploads/2009/12/uas-krisas.doc'>Download file</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dpm.web.id/akademis/test/simbolisasi-kehidupan-multikulturalisme-dalam-serial-avatar-the-legend-of-aang-876/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
