-
Hanya Seorang Pecinta
Posted on September 11th, 2006 No comments‘Warnet High Speed on-line 24 Jam non stop’. Tulisan hitam tebal yang tertera pada papan yang sudah agak kusam yang ku lihat saat Aku menengok ke sebuah bangunan kecil di pinggir jalan yang senggang. “Jadi kita ke warnet itu, beneran cepet enggak kayak tulisannya?” kata seorang perempuan cantik yang sejak tadi jalan bersamaku.
Sesaat ku pandangi dulu wajah oval yang dihiasi oleh alis tebal dan mata yang cemerlang itu yang kelihatan tetap menarik walaupun butir-butir keringat membasahinya di bawah terik matahari pukul satu siang. “Kayaknya sih begitu, udah cepet yuk, panas banget nih!” kataku segera bergegas menyeberang jalan menuju ke warnet itu.
Baca selengkapnya » -
Di akhir Cerita
Posted on September 8th, 2006 No commentsSetelah aku membayar semua administrasi rumah sakit, aku menuju ke kamar kecil untuk membenahi diri. Kamar kecil itu kotor dan bau layaknya kamar mandi umum di rumah sakit. Terdapat bercak-bercak kecoklatan di wash tufelnya. Ku lihat ke cermin yang terletak persis di atas was tufel itu. Hanya ada kira-kira seukuran wajah yang masih bersih sehingga paling tidak bisa digunakan untuk melihat wajah sendiri. Ku lihat wajahku sembab dan mataku merah seperti orang sedih yang semalaman menangis. ‘hmmm, memang aku habis menangis semalam’ pikirku. Ketika aku sedang sibuk memperhatikan wajahku di cermin, aku dikejutkan oleh bunyi bip dari arloji digitalku. “hah, sudah jam 8 pagi, alangkah cepatnya waktu berjalan”.
Baca selengkapnya » -
Liberalisme Vs Komunisme
Posted on August 4th, 2006 No commentsLiberalisme dan komunisme adalah dua paham besar yang di dunia sekarang ini atau lebih tepatnya 20 tahun yang lalu saat masih gencarnya perang dingin. Masing-masing dari paham tersebut di antut oleh negara superpower yang paham pertama dianut oleh raksasa Amerika Serikat, dan yang kedua oleh Uni Sovyet (yang sekarang sudah runtuh).
Baca selengkapnya » -
Pengganti Hidup (Cinta di balik bencana)
Posted on July 1st, 2006 No commentsTangan Pras bergetar ketika Ia berusaha untuk meraih telepon genggamnya. Jari-jarinya mulai menekan key path untuk mencari data nomor seorang perempuan yang sangat dicintanya selama ini. Matanya berusaha keras untuk menahan sesuatu yang sudah sangat ingin meluap. Tuuut… Tuuut…, Terdengar di telinganya nada sambung yang antar nadanya seperti bertahun-tahun jaraknya. Dua, Tiga, Empat, dan sampai nada tunggu ketujuh masih belum ada jawaban. Air mata itu mulai tidak dapat tertahan ketika pada nada yang kesembilan panggilan itu terangkat. Ia berbicara dengan nada yang gugup dan terburu-buru, “Na.. Na… Dia, Nadia, kamu baik-baik saja?”. Tak terdengar suara apa-apa dari ujung telephone. Hanya suara lemah seperti rintihan yang mendesahkan kata-kata yang terdengar seperti “maaf… kan Aku… Pras…”. Ia mengenggam handphonenya dengan kuat sekali, sepertinya dengan hal itulah Ia dapat melepaskan semua rasa penyesalannya. Air mata itu mulai mengalir dan membasahi pipinya. Ia telah lupa untuk berapa tahun ke belakang terakhir kalinya air mata itu keluar. Air mata lelaki, air mata yang sangat mahal harganya.
Baca selengkapnya » -
Di Tengah Kisah
Posted on June 22nd, 2006 No commentsSetahun sudah aku dan Findia menjalin kasih. Hubungan kami semakin erat dan rasanya tidak ada yang dapat memisahkan kami selain maut. Prestasiku di kelas juga berangsur-angsur semakin membaik setelah yang sebelumnya aku tidak mementingkan belajar dan hanya mencari kepuasan dengan gonta-ganti pacar dengan perempuan-perumpuan cantik di sekolah ini. Semua perubahan ku itu disebabkan karena Findia yang masuk ke dalam kehidupanku. Aku jadi lebih semangat dalam belajar karena kami sering sekali belajar bersama-sama. Aku sering menanyakan hal-hal yang tidak aku mengerti kepada Findia. Yang membuatku semakin kagum kepadanya adalah, ia tidak pernah meremehkanku karena nilai-nilai akademisku yang lebih rendah daripadanya, dan ia selalu dengan senang hati menjelaskan hal-hal yang tidak aku mengerti walaupun jurusan studi kami berbeda. Baca selengkapnya »
-
The Sixth Sense (Sebuah Cerpen)
Posted on May 10th, 2006 No commentsLangit biru cemerlang indah di sinari cahya mentari yang berkilau keemasan. Kicau suara burung menemani Frank yang sedang membaca buku bersama kekasihnya Chelsea. Silir hembusan angin meniup rambut mereka berdua yang sedang bercengkrama di bawah naungan pohon yang rimbun. “Menurutmu bagus tidak buku ini sayang?” tanya Frank sambil membelai rambut Chelsea dengan tangan satunya yang tidak memegangi buku. “Memang bagaimana ceritanya?” tanya Chelsea dengan manja. “Oh iya, kamu belum tahu jalan ceritanya ya!, kalau begitu, aku akan menceritakan sinofsisnya padamu” kata Frank sambil mulai menceritakan isi buku tersebut. Chelsea mendengarkan cerita Frank dengan menyenderkan kepalanya ke bahu frank yang lebar. Frank menceritakan isi buku itu dengan bersemangat sambil menikmati keharuman wangi rambut Chelsea yang tercium olehnya.
Baca selengkapnya » -
Friendship (Kisah Tiga Pemuda)
Posted on April 16th, 2006 No commentsAku tiba di kota Kembang ini kira-kira 3 tahun yang lalu. Tujuanku datang ke kota ini adalah untuk melanjutkan studi tehnik elektroku ke salah satu universitas negeri yang semua orang pasti sudah tahu namanya. Aku bisa meneruskan studi ini karena mendapatkan beasiswa yang ku dapatkan dari prestasiku selama berada di SMA. Aku bersekolah di salah satu SMA favorit di Jakarta yang di sana aku mendapatkan prestasi terbaik sehingga dapat meneruskan cita-citaku studi di institut itu. Aku berasal dari keluarga yang bisa bibilang pas-pasan. Dibilang kaya tidak banget, dan jika dibilang kekurangan ya tidak juga. Oleh karena aku senang sekali mendapatkan beasiswa itu karena jika tidak, mungkin cita-citaku akan pupus di tengah jalan.
Baca selengkapnya » -
The Secret Admirer (Sebuah Kisah Cinta dan Harapan)
Posted on April 14th, 2006 No commentsDi dalam relung hatiku
hati yang terselimuti oleh salju
ada ruang yang kosong di situ
menunggu sesuatu yang tak tentuSesuatu yang ku cari semakin menjauh
sesuatu yang tak ku cari tetapi semakin mendekatHanya dapat menikmati dari sisi mimpiku
sesuatu yang dekat bagi ku
tetapi jauh baginya***
Ku letakkan penaku. Ketika kulihat jam di sudut kamarku jarum jam menunjuk pukul 12 malam. Aku masih terduduk di kursiku, menatapi puisi pertamaku untuk sesuatu yang baru tetapi lama bagiku. Ya, sesuatu yang baru tapi lama. Aku sudah mengenal dirinya sejak SMP. Pada waktu itu tidak ada rasa apapun pada dirinya. Dia itu memang cantik dan mempesona bagi anak laki-laki di sekolahku, tapi mau bagaimanapun dia, aku tetap tak tertarik padanya. Mungkin karena aku terlalu berkonsentrasi pada pelajaran atau memang belum waktunya.
Baca selengkapnya »
Canonical URL by SEO No Duplicate WordPress Plugin





Komentar Anda