-
Jois dan Sang Malaikat
Posted on January 14th, 2010 No commentsCerpen Lily Yulianti Farid
Di awal musim semi, Jois mengisyaratkan kematiannya. Rintihannya yang parau berbaur dengan aroma semlal Pulanglah!”
Langit Stockholm runtuh dibuatnya. Suara itu sepertinya bukan milik pendongeng masa kecilku, yang mengisahkan negeri kurcaci, petualangan anak nakal yang lobs dari sekapan nenek sihir, serta lelaki bertungkai panjang, yang membagi kembang gula. Jois yang kukenal, lihai mengubah suara. Lembut, serak, merdu dan garang silih berganti saat berkisah. la yang terhebat. Yang mengayun imajinasiku ke segala penjuru.
”Tak pernah aku minta apa pun darimu. Sekali ini saja. Pulanglah.”
Suara dari sudut kota kecil nun di benua Selatan itu seperti badai salju ganas yang mengoyak jadwal hidup yang rapi.
Di kaca jendela kulihat seekor ulat daun melata, mendorong-dorong tubuhnya menyusuri bingkai. Pohon-pohon di tepi jalan terlihat seperti jejeran tonggak yang pasrah digunduli musim. Di trotoar, seseorang yang berlari pagi, berhenti membetulkan tali sepatu. Satu dua mobil melintas. Derunya menerobos hingga ke dapur. Musim semi telah mengirim isyarat, meski masih terlalu sedikit pucuk hijau yang muncul di pekarangan. Serangga-serangga mulai bergeliat. Langit tampak menggairahkan, biru menggeser kelabu.
Kepada Jois pernah kujanjikan sebuah pertemuan. Di musim panas Bukan sekarang, saat salju lebat yang memenjara baru saja usai. ”Pulanglah…”
Aku tahu jawaban yang hendak didengarnya.
1la tertawa. Rasa senang di seberang dengan mudah kubaca lewat suaranya yang berubah riang. la bercerita tentang rumah. Kabar yang disampaikannya itu kemudian tersumbat batuk dan napas tersengal. Percakapan kami terputus.
Mungkin a memang telah mendapatkan firasat.
Roti yang matang di pembakaran, harum pasta almond yang menguar, pemandangan pagi di jendela dan janji untuk pulang yang baru saja kuucapkan untuk Jois. Aku tahu, tak ada perayaan kecil menyambut musim semi kali mi. Tak mungkin.
Kusaksikan ulat daun di bingkai jendela tergelincir ke tanah. ***
SELALU kukirim kabar untuk Jois.
Ada bagian perjalananku yang rasa-rasanya mirip dengan dongeng yang dikisahkannya. Kutulis surat tentang jejak orang Viking, kastil megah dengan pucuk-pucuk tanpa bendera yang dipatuk burung-burung, padang rumput yang rebah di bawah bukit, yang menggodaku bergulingan seperti Pippi2, si bengal berkaus kaki panjang yang besar di karavan sirkus.
Da lam kesempatan lain kukatakan pada Jois, jangan khawatir, sejauh ini tak ada si jahat yang menculikku, seperti dalarn dongeng para putri.
Saat kuputuskan memulai pengembaraan, ia menyisipkan setumpuk nasehat di ranselku. Usiaku dua puluh lima. Muda dan terbakar rasa ngin tahu. Aku ingin bertualang seperti Tintin. Sementara ia adalah tubuh tua yang mencoba tabah menghadapi hantaman bronchitis, berjuang pulih dari stroke. ’Tak apa. Pergilah. Dengan satu syarat, kalau aku sekarat, kau harus pulang.”
Keberangkatan sekaligus kesepakatan yang membuat seisi rumah cemas. ”Kenapa tidak ke tempat yang dekat saja. Kau perempuan, sendirian kalau ada apa-apa, bagaimana?” keluh ibu.
2”Si bungsu mau epas dari penderitaan!” ejek kakak-kakakku. Mereka tahu betapa aku bosan menjadi pecundang.
Kukatakan pada Jois, Eropa adalah mimpiku. Kubayangkan mampir di tanah tua Yunani, menjejakkan kaki di arena pertarungan pasukan Sparta dan Troya, kupersiapkan din i menghadapi kelihaian para copet al Milan, juga tergelitik mengintai pelaku graffiti di stasiun-stasiun Metro di Paris atau beraksi menjadi manusia patung di alun-alun kota Amsterdam, mengharap recehan. Tapi lebih dari semua itu, aku ingin tinggal di tanah bangsa Viking, sang penakluk.
*DI sore yang mendadak dingin, Jois datang lagi dengan rintihannya.
”Cepatlah pulang! Aku ingin mendengar cerita-ceritamu, Nak…”
Kujelaskan padanya tentang Stockholm yang begitu jauh dari rumah kami. la mungkin tak membayangkan dua puluh jam penerbangan yang menyiksa.
”Jadi kapan?” la merengek. Sepertinya siap menangis. Tunggulah.”
Percakapan terputus. Kenangan menyergap.
Jois bukan sekadar pengasuh. la pelindung. la pendongeng terhebat. la malaikat. la pen i berhati emas. Lidahku jauh lebih fasih meneriakkan ”Joissss!” dalam susah dan senang, daripada memanggil nama ibu atau ayah.
”Anaknya Jois!” begitu crang-orang menjulukiku.
Kehadiranku adalah kejutan yang tak diharapkan. Kakak-kakakku sudah beranjak remaja ketika perut ibu buncit dihuni bayi baru. Aku Si bungsu yang diserahkan kepada Jois, pengasuh lulusan sekolah guru asal Sangir Talaud, pulau kecil di utara Sulawesi. lbu sedang di puncak karir. la tak ingin diganggu mahluk mungil yang hanya bisa menangis, minum susu, ngompol dan rewel.
3Anaknya Jos. Semua orang bilang begitu. Dan saat kusaksikan ia menangis keras melepasku, sadarlah aku bahwa ia memang menanam diriku dalam segenap kesadarannya, membaktikan dirinya untukku.
*JOIS berdaster abu-abu. la seperti langit musim dingin di utara. Semuram ubin teras. Tubuh yang tampak payah itu bersikeras memelukku. Perjalanan dari bandara Arlanda ke beranda di kota ini membuatku remuk. Tapi aku tahu, pelukan Jois akan membasuh rasa lelah.
”Sudah kubilang pada Tuhan, sabar…sabar, anakku belum tiba…” la nyegir. Tarikan bibirnya tampak mengerikan. Pipi kempotnya membuat hidung dan dahinya tampak lebih menonjol. Wajahnya koyak dirusak stroke. Penyakit menghisap semua nutrisi yang masuk ke dalam tubuhnya. la limbung saat menarik seluruh diriku ke dalam dekapannya.
Di ruang tamu, bapak, ibu dan tiga kakakku seperti barisan pemanah Troya menghadang pasukan Sparta yang merapat di pantai. Kutebak pertanyaan yang bakal meluncur dari busur mereka: ”Kamu pulang hanya untuk Jois?”
”Aku sudah berjanji padanya…” Kupilih membisikkan alasan kedatanganku pada ibu. la orang yang paling tepat menjelaskan kepada yang lainnya. Tiga kakakku, mahluk paling nyinyir di dunia, bukan teman bicara yang balk. Bapak? Ah, ia hanya mengagungkan pendapatnya sendiri.
”Ceritakan padaku tentang malaikat itu. Siapa namanya?” Jois menarikku ke kamar. la duduk terlentang di pembaringan, memangku kotak kayu berisi surat dan kartu pos yang kukirim. Kupikir ia akan memintaku bercerita tentang Eropa. Ternyata ia memilih potongan masa kecilku saat susah payah menghapal tiga belas nama malaikat. Jibril, Mikail, Israfil, Malik, Ridwan, Munkar Nakir Harut, Marut, Ar-Ra’d, lzrail, Rakib, Atb. Kusebut dengan lantang di mesjid, diganjar ustas dengan hadiah Silver Queen..
Kenangan itu terbentang di ranjang tua. Jois tampak riang. la meminta aku
4memijat betisnya dan merentang nostalgia: ayah dan ibu yang sibuk, tiga kakak perempuan yang puber dan sering keluyuran, dan aku si kecil yang harus diasuhnya.
Aku sebenarnya ingin sekali bercerita tentang Viking, si bengal Pippi, padang rumput, lennbah dan puncak musim panas yang benderang hingga tengah malam. Ingin kukatakan padanya, benih khayalan dari dongeng yang dibacakannya telah tumbuh jadi pohon besar di kepalaku.
Di sini, di kamar ini, kami membangun dunia sendiri. Ruang kecil, resik, beraroma minyak kayu putih. Dan i kelambu, seprei batik bermotif kembang sepatu dan potret di meja kecil –aku bermukenah dipeluk Jois di hari Lebaran tersembur peristiwa demi peristiwa.
Arus kenangan menggelegak.
Hari pertama belajar mengaji, Jois menuntunku ke mesjid. ”Aku tunggu di luar ya,” katanya.
Mengapa Jois tak masuk ke rumah Tuhan yang berlantai dingin ini? Bukankah pengantar lainnya boleh ikut duduk di dalarn?
”Jois bukan Islam,” kata bapak.
(Tapi kan tidak ada larangan masuk mesjid?)
Jois beribadah di gereja. Bukan di mesjid,” kata ibu
(Tapi ia hanya menemaniku. Apakah ia tidak boleh masuk ke mesjid?)
”Tak usah kau persoalkan ini,” kata bapak lagi.
(Ta pi
”Kamu kenapa sih, masih kecil sudah cerewet begini?” lbu putus asa menghadapiku.
5Debur kenangan menderas.
Kuingat, Jois didamprat bapak karena lancang mengajakku ke gereja Pantekosta. Aku penasaran pada ceritanya. la beribadah dengan bernyanyi dan bertepuk tangan.
”Aku yang minta diajak Lagipula, aku hanya mengintip dari luar!” Kubela Jois mati-matian.
La lu ada suara batuk yang menghentak. Ranjang terguncang.
Gelombang kenangan terhenti.
Rasa sakit tergambar jelas di garis wajah, di sorot mata, dan di jemarinya yang gemetar. Perempuan yang membesarkanku ini telah menjelma pohon ringkih yang kepayahan dihantam musim yang keji. Meranggas tak berdaya. Diawali stroke, lalu paru-paru yang bonyok, hash l diagnosa yang mengerikan dan sikap keras kepala menolak dirawat di rumah sakit, membuat seisi rumah berada di puncak keputusasaan.
”Tidurlah Jois. Besok kita cerita lagi.” Kubujuk ia. Kubentangkan selimut di sekujur tubuhnya.
”Tapi kau belum menjawab, siapa nama malaikat maut itu.”
Di mataku membayang gadis kecil dituntun perempuan berkulit legam. Aku dan Jois.
”Siapa nama malaikat itu?”
”Namanya lzrail.” Aku mengalah. Suaraku gernetar.
”Hehehe… tapi ia malaikat orang Islam saja, ya? Kalau untukku, mungkin bukan lzrail …” Jois terkekeh.
6Tak kutanggapi gurauannya. Getar menjalar di seluruh tubuhku. Kutarik selimut hingga ke dagunya Kucium pipinya. Hangat. Ceruk di antara tulang pipi dan tulang rahangnya bergetar. Denyut kehidupan yang lemah.
”Coke lat hadiah menghapal nama-nama malaikat itu dirampas oleh kakak-kakakmu. Kau menangis berhari-hari. Aku tidak bisa lupa peristiwa itu..
”Sssst…. Tidurlah, Jois. Besok masih banyak waktu untuk bercerita.”
Kumatikan lampu. Kukecup sekali lagi pipinya.
LIMA kepala beradu. Kupikir, sia-sia saja menambah usulan apa pun. Ayah, ibu dan ketiga kakakku bersitegang. Ruang tengah berubah menjadi medan perang.
”Bapak sudah menelepon rumah duka dan gereja Jois. Kita tinggal siapkan biaya peti mati, penguburan dan lainnya.”
”Kalau mau lebih praktis, Jois harus kita bawa ke rumah sakit besok. Apapun alasannya. Bila meninggal di rumah sakit, jauh lebih efisien. Jenazahnya tidak perlu dibawa ke rumah iagi, Langsung ke rumah duka itu saja.” kata kakak
nomor satu.
”Jangan begitu, ah! Sudah puluhan tahun Jois ikut keluarga kita. Hargai keinginannya. Bila ia meningga! di sini, toh ini rumah dia juga!” Ibu terdengar emosi.
”Tapi Jois bukan Islam, Ma! Coba bayangkan bagaimana repotnya?” sergah kakak nomor dua.
Ibu memukul meja. ”Kalian hanya memikirkan betapa repotnya bila kematian itu betul-betul terjadii Tak pernah ikhlas! Lagi pula, Jois belum tentu akan meninggal besok, lusa atau bahkan minggu ii!”
”Tuh, anaknya kan sudah datang jauh-jauh dari Swedia. lni artinya….” Kakak nomor satu menatapku tajam. la tampaknya sengaja menggantung kalimatnya.
7”Atau kita antar dia pulang ke kampungnya, Ma? Kita tidak tahu apa-apa soal pemakaman sesuai agama Jois. Mungkin persekutuan gerejanya bisa menolong…” kakak nomor tiga menyemburkan ide yang membuat ruangan meledak.
”Gila! Kalian semua sudah gila!” Ibu memukul meja lebih keras.
Semua terdiam.
Pengasuh setia sebatang kara, yang memutuskan mati di rumah majikan. Sebuah keluarga yang kebingungan dan saling mendamprat. Entah mengapa, aku yang merasa paling bersalah.
Perdebatan mendidih. Aku mundur. Di mulutku, ada pertanyaan yang urung terlontar: Legakah kami bila sekiranya Jois tidak mati di rumah ini?
”Ingat, Ma! Sudah berbulan-bulan kita semua repot merawatnya! Memenuhi permintaannya, mendengar ocehannya,” kakak nomor tiga masih melawan.
”Kau manusia tak berperasaan! Diam!” lbu telah mencapai puncak kemarahannya.
Perang berkobar sempurna di ruang tengah.
*TIBA-TIBA aku ingin menangis sekeras-kerasnya.
Kurebahkan diriku di samping Jois. Kamar gelap sempurna.
”Ssst..ceritakan padaku tentang lzrail.” Jois rupanya terbangun.
”Kenapa mengulang itu terus? Tidurlah, Jois.”
la mengiris kegelapan dengan tangis.
8Tapi mungkin yang mendatangiku bukan lzrail ya . ”
”Ssst… sudahlah Jois…”
”Entah mengapa peristiwa itu yang terus teringat belakangan mi. Tentang kau yang berdiri di atas meja menghapal nama-nama malaikat..
”Tidurlah, Jois..”
Jois terbatuk. Aku mengusap dadanya.
”Peluk aku, Nak. Aku takut
Tangisku tumpah bersama tangisnya Air mataku dan airmatanya bermuara di dadanya. Di ceruk tipis dengan tulang rusuk menonjol itulah seluruh tangisan masa kecil dan remajaku dulunya mengalir.
Di dalam gelap, bulir dari mataku mengiringi kenangan yang memancar terang di langit-langit kamar. Kuingat rasa girang saat mengintip gereja Jois yang semarak dengan suara tepukan dan musik. Aku juga mengenang bangku kayu dan pohon akasia di pekarangan mesjid, saksi kesetiaan pengasuh itu menungguiku belajar mengaji. Di bulan Ramadan, aku adalah pahlawan cilik yang menyisakan menu sahur untuk sarapannya. Dan di kamar inilah, setiap Natal ia memberiku sekotak cokelat berpita merah.
Dan i seluruh sudut kamar tersembur potongan-potongan peristiwa yang kulalui bersamanya. Semua benderang. Dan sekarang, saat Jois mendapatkan firasat kematiannya, aku hanya bisa memeluknya sembari menangisi perang yang berlangsung di luar sana.
”Namanya lzrail, Jois. Malaikat pencabut nyawa. Tapi mungkin kau takkan melihatnya. Barangkali saja Tuhan yang langsung datang merengkuhmu…”
”Peluk aku, Nak….” Jois merintih.
1
1
9Tubuhku menggigil. Kueratkan pelukanku.
Suara pertengkaran di ruang tengah merayap melalui celah pintu dan lubang angin.
”Peluk aku…”
Kami bertangisan. Di dalam gelap kurasakan degup di dadanya melemah. Pipinya dingin. Kian mendingin.(*)
Paris, Desember 2008 – Jakarta, Februari 2009.
Catatan kaki:
1 Sem la, roti manis berisi pasta almond dan krim yang lazim dibuat di Swedia untuk menandai awal musim bunga.
Pippi Si Kaus Kaki Panjang, dongeng pengantar tidur Swedia tentang gadis bengal yang besar di rombongan sirkus. Cerita ini pertama kali dibukukan oleh penulis Astrid Lindgren dan terkenal di seluruh dunia.
10
Related Links:
- Jurnal Kritik Sastra dan Budaya
- Puisi Matahari
- Web Hosting dan Domain Super Murah
- The Secret Admirer (Sebuah Kisah Cinta dan Harapan)
- Ujian Akhir Semester MPK Terintegrasi 2007
Leave a reply
Canonical URL by SEO No Duplicate WordPress Plugin








Komentar Anda