-
Ujian Tengah Semester Pengkajian Prosa Inggris 2009
Posted on March 27th, 2009 No commentsDi sini saya publish soal dan jawaban saya untuk ujian tengah semester mata kuliah pengkajian prosa Inggris. Jadi formatnya adalah ada sebuah cerpen dengan judul “the woman’s rose” karya olive shreiner yang harus dianalisis untuk kemudian digunakan untuk menjawab beberapa pertanyaan. Meski hasil saya untuk mata kuliah ini tidak memuaskan, namun cukup untuk sekedar bahan referensi.
1. What is the effect of using the protagonist as the narrator in her perception about the relationship between male and female, and between females? Explain your answer and support your answer by quoting parts of the text.
Dalam cerpen “The Woman’s rose” karya Olive schreiner, protagonis bertindak sekaligus narator dalam cerita. Dalam hal ini, sudut yang dipakai adalah sudut pandang orang pertama mahatahu terbatas atau First-person limitted omniscient. Efek yang ditimbulkan dari penggunaan sudut pandang ini adalah tokoh utama bisa mendiskripsikan tokoh lain dalam cerita, namun tidak secara mendalam atau sambil ke apa yang difikirkan oleh orang lain. Ia bisa menjelaskan rupa fisik, sikap perilaku, dan sifat dari hanya yang ia lihat atau amati.Dalam penggunaannya, narator yang sekaligus tokoh utama ini dapat memberikan komentar akan apa yang ia alami sendiri. Di sini tokoh utama banyak berkomentar mengenai hubungan gender antara pria dan wanita, lalu juga antara wanita dengan wanita sendiri.
Tokoh utama berkomentar mengenai hubungan antara pria dan wanita. Dalam persepsi seorang pria, yang dilihat dari seorang wanita hanyalah keelokan ragawi dan cara ia bersikap. Tidak pernah dilihat apa yang difikirkan oleh seorang wanita. Seperti plot utama dalam cerita ini yang mengisahkan tokoh utama yang pindah ke suatu desa, yang disana populasi pria lebih banyak dari perempuan. Saat ia tiba, hanya ada satu perempuan yang dapat dikatakancantik, sangat cantik malah. Ia berumur 17 tahun yang kesempurnaannya digambarkan sepertikutipan di bawah ini.
“She was about seventeen, fair, and rather fully-fleshed; she had large dreamy blue eyes, and wavy light hair; full, rather heavy lips, until she smiled; then her face broke into dimples, and all her white teeth shone.(Paragraf 4)
Dari narasi tokoh utama, diketahui bahwa pria-pria di sana sangat mengagumi si gadis. Mereka bersaing untuk mendapatkan cinta dari si gadis. Terlihat pada kutipan “All the men worshipped her. She was the only woman they had to think of. They talked
of her on the stoep, at the market, at the hotel; they watched for her at street corners; they hated the man she bowed to or walked with down the street.
They brought flowers to the front door; they offered her their horses; they begged her to marry them when they dared.”(paragraf 4).
sebenarnya apa yang dilakukan oleh para pria itu, bukan karena tak ada wanita di sana, atau karena jumlahnya yang sedikit. Ada beberapa gadis lain, namun kecantikannya tidak sebanding dengan gadis berumur 17 tahun itu. Hal ini membuktikan bahwa kecantikan sangat penting bagi pria. “The hotel-keeper may have had a daughter, and the farmer in the outskirts had two, but we never saw them. She reigned alone.”(paragraf 4). Dari kalimat “She reigned alone” itu, dapat diartikan dia berkuasa sendiri, atau hanya ia yang dikagumi di sana.
Komentar dari tokoh utama mengenai hal ini, dia mengamati ada beberapa tujuan dari pira-pria yang mengejar seorang perempuan cantik. Ada di antara mereka yang merasa bangga jika memiliki seorang perempuan cantik sebagai kekasih atau istri, ada yang benar-benar rela bersudud di kaki perempuan yang dipujanya, dan lain-lain. “Partly, there was something noble
and heroic in this devotion of men to the best woman they knew; partly there was something natural in it, that these men, shut off from the world, should pour at the feet of one woman the worship that otherwise would have been given to twenty; and partly there was something mean in their envy of one another.” Paragraf 4).Lalu tokoh utama juga mengatakan bahwa konsep lelaki tentang kecantikan itu sangat subjektif. Hal ini seperti kabar burung yang cepat menyebar ketika seorang lelaki mengatakan seorang gadis cantik, maka yang lain juga akan mengatakannya. Ini yang tidak diketahui oleh tokoh utama sebelumnya. Sehingga konsep tentang cantik itu yang membuat adalah lelaki, bukan dari diri wanita itu sendiri. Seperti dalam kutipan “no one ever had told me I was beautiful and a woman. I believed them. I did not know it was simply a fashion, which one man had set and the rest followed unreasoningly”(paragraf 5).
Tokoh utama menyadari bahwa kedudukannya sebagai perempuan di masyarakat lebih rendah dari lelaki. Ia juga memahami, dengan apa yang lelaki bilang bahwa dirinya cantik, ia jadikan hal itu sebagai power atau kekuataan untuk menundukan para pria. “I was too small to be tender. I liked my power. I was like a child with a new whip, which it goes about cracking everywhere, not caring against what. I could not wind it up and put it away.”(paragraf 5).
Dari semua hal di atas, dapat disimpulkan bahwa tokoh utama menganggap hubungan antara pira dan wanita terjadi ketimpangan di sana. Pria hanya melihat seorang wanita dari apakah ia cantik atau tidak, bukan dari apa yang bisa ia perbuat atau kemampuan intelejensia.Pages:Next page
Related Links:
- Substansi Tubuh seseorang dalam Konteks Sosial Amerika Serikat
- Kritik feminisme pada cerpen Perempuan Sinting di Dapur
- The Secret Admirer (Sebuah Kisah Cinta dan Harapan)
- Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dalam Film Erin Brockovich (2002)
- Ujian Tengah Semester Pengkajian Puisi Inggris
- Ujian Tengah Semester American Study 2008
- Ujian Tengah Semester Pengantar Kesusastraan 2007
- Ujian Tengah Semester Dasar-Dasar Filsafat 2008
- Ujian Akhir Semester Pengantar Budaya Australia
- Memahami Makna Jender dalam Masyarakat Amerika Serikat
Leave a reply
Canonical URL by SEO No Duplicate WordPress Plugin







Komentar Anda