-
Kritik feminisme pada cerpen Perempuan Sinting di Dapur
Posted on December 29th, 2009 No commentsKetika mendengar kata perempuan, maka di benak kita akan terlintas kata-kata seperti lembut, cantik, lemah, manja, penurut, dan seterusnya. Bagi masyarakat pada umumnya, konsep ini dimaklumi sebagai sesuatu yang kodrati bagi seorang perempuan. Kaum esensialis pun seperti para pemuka agama dan masyarakat turut mendukung bahwa atribut-atribut yang melekat dalam konsep seorang perempuan adalah sesuatu yang kodrati atau alamiah dikarenakan factor biologis sebagai perempuan itu sendiri.
Jika dianalisa lebih dalam lagi, apakah benar konsep yang berlaku pada seorang perempuan saat ini diakibatkan oleh keadaan fisiknya yang memiliki rahim? Pernahkah kita membayangkan ketika seorang balita laki-laki dididik layaknya kita mendidik seorang balita perempuan dengan memakaikannya rok atau mainan domestic, apakah ia akan tetap memenuhi konsep seorang laki-laki ketika ia dewasa? Hal inilah yang disebut dengan konsep gender sebagai konstruksi sosial. Baik kita sadari atau tidak, tumbuh kembang manusia menjadi seseorang yang memenuhi konsep perempuan atau laki-laki adalah hasil bentukan konstruksi yang berlaku dalam masyarakat. Konsep bahwa seorang laki-laki harus rasional, kuat, tegar, dan seterusnya, dibangun oleh masyarakat dengan memberikan didikan bahwa anak laki-laki tidak boleh menangis dan mainan seperti mobil-mobilan atau lego. Sebaliknya, ketika masyarakat kita mendidik seorang perempuan, ia akan dididik sebagai seorang manja yang dituruti semua permintaannya serta diizinkan menangis hanya karena ia perempuan.
Lebih jauh lagi, folklore atau cerita rakyat yang memnggunakan kacamata falosentris turut membuktikan bahwa konsep perempuan telah dibentuk oleh masyarakat sejak dulu. Di nusantara, kita mengenal cerita rakyat bawang merah dan bawang putih yang menceritakan tentang dua perempuan beda karakter. Bawang merah dikisahkan sebagai seorang perempuan yang malas dan tidak pernah menurut pada perintah orang tua. Sedangkan bawang putih adalah seorang perempuan yang rajin membersihkan rumah, pintar memasak, mencuci, dan penurut akan semua perintah orang tua. Di akhir cerita, keberuntungan berpihak pada si bawang putih meski di awal ia mendapatkan perilaku yang tidak baik dari saudaranya si bawang merah. Dapat disimpulkan bahwa internalisasi konsep seorang perempuan ideal kepada anak melalui jalur cerita rakyat sangat berpengaruh dalam membentuk tuntutan terhadap seorang perempuan ideal yang harus penurut, lembut, bisa merawat rumah, pintar memasak, dan lain-lain.
Namun konstruksi ini coba didekonstruksi oleh Ugoran Prasad dalam cerpennya yang berjudul Peerempuan Sinting di dapur. Dalam cerpennya, Prasad menceritakan tentang seorang perempuan tua bernama Saodah yang bekerja sebagai penjual makanan di kampungnya. Makanan yang dimasaknya amatlah enak hingga semua orang rajin datang ke warungnya meski cara memasaknya sangat misterius dan secara pribadi Saodah bukan orang yang menyenangkan. Hingga pada suatu hari seorang pemuka kampung bernama Wak Haji Mail yang hendak menjelang ajal ingin bertemu dengan Saodah sebelum hembusan nafas terakhirnya. Istri pertamanya, Wak Misnah, menyuruh tokoh “aku” untuk menemui Saodah dan menyampaikan pesannya, tapi Saodah menolak. Dari anak Saodah yang bernama Aminah, tokoh “aku” mendapatkan keterangan bahwa wak Haji Mail pernah memfitnah suami Saodah yang menyebabkan ia terusir dari kampung dan mati dalam keadaan hina. Namun sebelum meninggal, Wak Haji mail berpesan lagi untuk meminta Saodah memasak makanan yang akan dibagikan ketika tahlilan. Saodah menyanggupi dan pada saat Saodah memasak itulah tokoh “aku” menemukan fakta bahwa selama masak, Saodah meludahi bahan makanan dan mengencingi panci masakan.
Dari pendekatan feminisme, dapat kita analisis beberapa hal yang mengkritik konsep ideal seorang perempuan dalam kaitannya dengan hubungan antar gender. Dimulai dari bagian eksposisi cerpen ini tentang wak Haji Mail yang sudah kawin tiga kali dan memiliki anak 14. Tindakan poligami yang baik secara langsung atau tidak langsung telah mengukuhkan konsep bahwa perempuan itu lemah dan laki-laki boleh berbuat apa saja, pada kenyataanya tidak serta merta dimaklumi oleh Wak Misnah. Ketika Wak Haji Mail menjelang ajal, seorang yang berada paling dekat dengannya dan memiliki kekuasaan untuk mengatur siapa saja yang boleh menemuinya adalah Wak Misnah yang notabenya telah dizolimi Wak Haji Mail dengan menikah lagi. Di sini telah terlihat bagaimana konsep seorang perempuan sebagai konco wingking atau teman hidup lelaki yang adanya di belakang. Apapun kesalahan yang dilakukan oleh suami, istri adalah istri dan harus mengikuti apa kata suami.
Lalu di dalam tokoh “aku” sebagai seorang laki-laki, terpatri juga konsep seorang perempuan yang dianggap sebagai komoditas. Ketika ia bertemu lagi dengan Aminah yang cantik, terkenang lagi saat tokoh “aku” ditolak lamarannya dan terpaksa menikahi perempuan lain yang telah dijodohkan lama oleh keluarganya. Meski tokoh “aku” telah terikat dalam institusi sebuah perkawinan, ia masih mengagumi Aminah dengan kecantikannya itu. “Aku menunduk di belakang Aminah. Kami sangat dekat, aku bisa melihat tengkuk di bawah gelung rambutnya, mencium wangi
tubuhnya, rambutnya. Lehernya, siap menenggelamkanku. Aku agak mabuk, tak percaya. Sesaat bahkan kegirangan meluap-luap dan jantungku berdebar. Jari-jari Aminah yang cantik menyibak tirai dapur”. Lebih jauh lagi, di dalam keterhanyutan tokoh “aku” dalam romansa kecantikan Aminah, ia dengan berani menanyakan lagi alasan Aminah menolaknya saat itu seakan lupa bahwa ia sudah beristri.Di dalam tokoh Saodah sendiri, kita dapat melihat bagaimana konsep ironis seorang perempuan. Di dalam cerpen karya Urgon Prasad ini terlihat jelas bahwa perempuan akan diterima dan dianggap sebagai perempuan ketika mampu memenuhi kodratnya sebagai seorang perempuan. Dalam kasus ini adalah memasak. Saodah mampu memasak bagi orang kampung, oleh karena itu dia tidak dikucilkan karena memiliki seorang suami yang murtad atau fasik. Pernyataan bahwa masakan Saodah telah mengangkat derajatnya sebagai seorang perempuan ini nampak pada perkataan Aminah “”Bukan, bukan berdagangnya. Memasak untuk orang kampung. Ya, itu yang menyelamatkannya,” kalimat Aminah terputus sebentar. Sorot matanya sempat nyalang ketika dia bergumam, ”itu menyelamatkanku.””.
Konsep bahwa perempuan harus pintar memasak ini semakin dikuatkan dengan pekerjaan Aminah sebagai juru masak di luar negeri. Jadi mengapa harus memasak? Mengapa bukan teknisi mesin, pilot, atau yang lain? Dari poin inilah Prasad ingin mengemukakan kritiknya tentang anggapan umum masyarakat terhadap suatu jenis pekerjaan. Kita selalu memaklumkan pekerjaan teknisi mesin atau pilot adalah milik laki-laki. Sedangkan pramugari, memasak di dapur, atau mencuci baju identik dengan perempuan.
Terkait dengan perilaku absurb Saodah yang meludahi dan mengencingi bahan makanan yang dimasaknya untuk warga kampung, hal ini semata-mata merupakan sebuah kritik bahwa kekuataan perempuan terletak pada kelemahannya. Pekerjaan memasak di dapur yang dianggap oleh laki-laki sebagai sesuatu yang sepele, diasosiasikan sebagai tugas perempuan yang tidak membutuhkan kerja fisik. Tokoh Saodah menyadari hal ini dan memanfaatkan keahliannya untuk memasak itu untuk bertahan hidup. Sedangkan perilaku absubnya itu dijadikan Saodah sebagai sarana balas dendamnya kepada masyarakat yang telah memfitnah dan mengusir suaminya dulu. Ini bukan keinginan normal Saodah atau perempuan pada umumnya, melainkan masyarakatnya sendirilah yang telah membentuknya.
Saodah pun melakukan protes dengan selalu memasak untuk orang banyak tanpa dibantu oleh siapapun. Secara eksplisif, Saodah ingin menunjukan bahwa seorang perempuan yang tak bersuami lagi bukanlah makhluk lemah. Ia dapat menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya dengan tanpa bantuan orang lain. Ketidakramahan tanpa senyum Saodah pun dianggap sebagai penghancuran konsep janda genit yang mengemis belas kasihan laki-laki untuk menyambung hidup. Saodah mendapatkan nafkah murni dengan keringatnya sendiri. Menjual makanan yang disukai semua orang meski ia tidak pernah ramah atau senyum mengerling kepada lelaki.
Ungkapan “wanita dijajah pria sejak dulu. Namun ada kala pria berlutut di kerling wanita” seakan tergambar jelas dalam cerita ini pula. Saodah, seperti yang sudah dijelaskan, suaminya terusir dari kampung karena difitnah murtad. Lalu, apakah yang akan terjadi jika Saodah tidak pintar memasak? Kemungkinan besar ia juga akan diusir dari kampung atau bunuh diri karena mendapat cercaan dari warga kampung. Bahkan dengan keahliannya ini, Wak Haji Mail yang semasa hidupnya adalah pelaku utama pengusiran suami Saodah, dengan baik hati menyantuni Saodah dan kelima orang anak Saodah, hanya karena terpukau oleh masakannya yang enak.
Lebih jauh lagi, masyarakat ternyata tidak peduli dengan sikap misterius dan kekurangramahan Saodah, mereka hanya berurusan dengan masakan Saodah yang terkenal enak. Keputusan Ugoran Prasad untuk menyajikan sesuatu yang ekstrim dengan masakan yang enak ternyata mengandung air ludah dan kencing ini, adalah wujud sebuah shock therapy bagi masyarakat tentang konsep seorang perempuan. Seperti masakan Saodah, yang orang tahu hanyalah jika masakan itu enak, bukan apa yang terkandung atau yang membuatnya menjadi enak. Dengan kata lain, seorang perempuan bukan atas dirinya sendiri ia dipandang. Melainkan hanya kecantikannya, kepintaran memasak, kepatuhan terhadap suami, atau kerajinannya dalam merawat rumah saja.
Hal-hal tersebut di atas dengan jelas membedakan antara peranan laki-laki dan perempuan. Lelaki sebagai breed winner dan perempuan sebagai home maker, telah mengemukakan perbedaan konsep mendasar antara keduanya. Pelajaran membaca pun di kala kita sekolah dasar telah menjadi saksi dari segregasi gender ini. Kalimat-kalimat Ayah Pergi ke kantor dan Ibu memasak di dapur secara tidak langsung menginternalisasi dalam alam pemikiran masyarakat. Hal ini pula yang dikemukakan Wak Misnah kepada tokoh “Aku” dalam wejangannya setelah tahlilan Wak Haji Mail ““Kedua, bahwa tempat gila manusia sudah lama terpisah-pisah. Laki-laki sinting di jalan, perempuan di dapur. ”Itulah kenapa kalian tak pernah paham. Jangan pula kau kira kau lebih pandai dari bibimu ini. Mati kuracun kau nanti.””.
Pernyataan itu secara implisif menjadi sebuah kritik bagi konsep perbedaan gender laki-laki dan perempuan. Para lelaki selalu menganggap peranannya lebih dengan bekerja di luar rumah mencari nafkah. Mereka merasa lebih “hebat” dari perempuan yang kerjanya hanya di rumah. Celakanya, masyarakat terus mendoktrin bahwa mereka lemah, jadi mereka tak akan dapat hidup tanpa adanya suami. Padahal pekerjaan perempuan di rumah itu tidak semudah yang dibayangkan lelaki. Judul cerpen ini Perempuan Sinting di Dapur telah mengisyaratkan pesan ini. Tidak hanya sebatas makna perempuan yang memasak dengan tambahan air liur dan kencing saja, namun ada pula makna bahwa peranan perempuan tidak kalah penting dari lelaki meski hanya berada di rumah. Selama lelaki masih menggunakan sudut pandang falosentrisme, konsep kesetaraan gender antara lelaki dan perempuan tak akan pernah terwujud.
Related Links:
- Perempuan Sinting di Dapur
- Memahami Makna Jender dalam Masyarakat Amerika Serikat
- Pengkerdilan Kedudukan Perempuan Dalam Keagungan Pemikiran Yunani Kuno
- Konstruksi Relasi Sosial Perempuan dalam Film Erin Brockovich (2002)
- Perihal Akhlaq Tercela menurut Islam
- Substansi Tubuh seseorang dalam Konteks Sosial Amerika Serikat
- Perihal Pernikahan di Amerika Serikat
- Jurnal Kritik Sastra dan Budaya
- Ujian Tengah Semester American Study 2008
- Ujian Tengah Semester Pengkajian Prosa Inggris 2009
Leave a reply
Canonical URL by SEO No Duplicate WordPress Plugin







Komentar Anda